Sabtu, 01 November 2014

~~~~~

Pertama-tama gue mau mengheningkan cipta untuk lawakan gue di postingan-postingan lama yang garingnya bikin Pithecantrophus geregetan pengen hidup lagi.

Well, welcome November!!! Cepet banget kayaknya udah mau akhir tahun. Dan sedih aja karena gue belum ngebuat perubahan yang berarti di hidup gue~~~

Gue pernah baca di akun 9GAG ada tulisan;

The world is full of nice people. If you can't find one, be one.

Well, kalimat yang kurang dari 140 karakter itu yang udah totally ngerubah hidup gue. Bener. Setidaknya kalo gue gak bisa nemuin orang baik, gue pasti bisa jadi salah satunya. tapi, kemudian gue mikir,

Its hard to be a nice person if everybody around you are truly an asshole.

Gue tahu itu kata-kata kasar banget. tapi gue juga ngerasa kalo diri gue itu bener. But somehow, kalimat pertama tetep yang menangin diri gue. Gonna try ma best to be a better person. Ya gue sadar aja sih, gak semua orang yang gue baikin bakal bales baik sama gue. tapi baik atau engganya perlakuan mereka ke gue kan itu udah di luar kuasa gue. Semua orang berhak mau suka atau engga sama gue, same as gue juga berhak mau suka atau engga sama mereka.

Gak semua orang baik itu baik. dan gak selamanya orang baik itu baik.

Semua orang pasti punya inner circle. Dan Inner circlenya pasti punya kriteria masing-masing. Gak semua orang bisa masuk ke inner circlenya.
Gue juga gitu. Gue punya inner circle gue sendiri. Toh sebanyak apapun temen yang gue punya, cuma beberapa yang gue masukin ke inner circle. Sisanya punya batas tak kasat mata ((((cielah TAK KASAT MATA)))) antara inner circle gue, dan dunia luar.

Gue mau punya banyak temen, yang gue tahu semua orang juga pasti pengen. Tapi gue rasa itu salah satu akar masalah di hidup gue. Gue pengen punya temen yang ngerti gue apa adanya, yang nerima gue apa adanya, yang merlakuin gue kayak sahabat gue merlakuin gue. Gue tau itu salah, karena gak semua orang itu sama. Dan gue juga tahu kalo gue gak bisa maksa mereka untuk jadi kayak apa yang gue mau. Pada akhirnya gue sering kecewa sama semua harapan-harapan yang muncul dari dalam diri gue sendiri.

Kadang gue suka sendirian. Gue gak suka ada di tengah-tengah kerumunan orang atau orang banyak. Bisa bikin sesek nafas ngeliatnya juga. tapi gue tahu kalau gue gak bisa sendirian. Gue gak suka ngerasa kesepian.



Akar segala permasalahan yang ada di dalam diri gue itu adalah overthinking. Gue selalu mikirin hal-hal yang seharusnya gak gue pikirin. Yang padahal orang lain juga gak bakal peduli, but still, I got all the insecurities. Kadang kalo lagi insecure gak ada alasan gitu satu-satunya cara yang bisa bikin tenang yaa paling chatting sama orang-orang yang ada di inner circle gue itu. Thank to God, mereka mau dengan senewennya gue recokin dan gue ambekin tanpa alasan but still want to be beside me. Gak usah disebut siapa, kalian pasti tau siapa kalian.




Sekarang-sekarang ini gue sering mikir, buat apa juga punya banyak temen? Bikin pusing aja. Banyak temen disini maksud gue ya yang temen deket gitu lah.... Toh gak di semua tempat gue bakal diterima. tapi gue tahu  kalo kenal banyak orang itu perlu. Just in case suatu saat gue kenapa-kenapa dan butuh bantuan.

Just want to be like Adam~


Lagipula kita kan gak bisa ada di satu tempat dalam waktu yang sama. Kalo kita mau diterima disini dan dalam waktu bersamaan mau di tempat lain, kita pasti akhirnya gak akan dapet dimana-mana. End up being alone untuk suatu kesalahan yang dari awal emang dibikin sama diri sendiri.

Gue lebih suka temenan sama orang yang gak tahu malu, masuk rumah gak pake assalamualaikum, kalo ngomong gak diayak, tapi jadi orang paling pertama juga dateng waktu gue butuh sesuatu, ketimbang yang manis-manis manja kayak gulali tapi waktu gue minta tolong ilang tauk kemana.  


ohiya, sebelum postingan ini abis, gue mau ngasih bonus gaambar nih dua;

 :))




YASH!!



Yaps...... And have a great November!!!!!!!:)))))))))))
Kenapa yang datang harus pergi? Kemudian, kenapa yang pergi tidak pernah kembali?

Jumat, 03 Oktober 2014

Memulai Kembali

Playin on repeat, Christina Perri ~ A Thousand Years

Jadi darimana?
Bagaimana kalau dari cerita masa laluku? Jujur saja, sebenarnya aku tidak suka membahasnya, tapi toh akan aku ceritakan juga supaya kelak, ketika matamu sudah terbuka, kau berkenan menerimaku apa adanya.

Begini.....

Rasanya sudah lama sekali ketika terakhir kali aku merasakan apa yang ku rasakan saat ini. Ku pikir salah satu bagian dalam tubuh ini sudah mati. Ku pikir setelah kepergiaannya, aku takkan memiliki siapa-siapa lagi. Tak akan merasakan apa-apa lagi.
Yang kutahu dia membawa pergi setengah bagian hatiku, yang kutahu aku tak mau menggunakan setengah sisa yang berada pada diriku, yang kutahu setelah dia, tak akan ada lagi kamu. Tak mungkin lagi tercipta kita.


Ruang kosong di hati kita tetap ada, dan gak akan pernah benar-benar terisi. - Cinta Pertama


Kurasa benar-benar akan menjadi waktu yang sangat lama untuk menggantikannya. Untuk mencari separuh hati yang lain. Untuk mencari tempat lain untuk rindu bermuara, untuk bibir menyambut canda, untuk mata berbagi cerita.

Ternyata aku benar. Ternyata itu memanglah waktu yang sangat lama untuk menggantikannya...........


Aku hampir putus asa. Terpuruk dalam diri yang rasanya mati rasa.
Kecewa pada setiap harapan yang diciptakan oleh diri sendiri, hampir mati karena semua janji yang tak bisa ku tepati.

Aku pikir semuanya sia-sia...................

Yah, kupikir......

Lalu, pada waktu yang tak pernah kuduga, kau menunjukkan wajah walau tanpa sapa. Bodohnya dalam satu kedip mata aku terpana, malunya aku tak bisa menyembunyikan pipi yang tertutup rona.

Sebenarnya aku tidak menyukaimu. Demi Tuhan aku tidak menyukaimu.
Atau setidaknya sebelum aku memutuskan untuk menceritakan semua ini.

Kau tahu? jujur saja aku takut pada masa lalu.
aku takut pada semua janji yang mungkin -lagi lagi- tak akan ditepati, aku takut pada semua canda yang ternyata pertanda duka, aku takut pada bahagia yang ternyata membawa air mata.

Sampai kemudian, ketika aku sedang menulis rangkaian kata ini, aku menyadari,,,

Tak ada bahagia yang selamanya bahagia.

Benar, tidak mungkin ada orang yang sepanjang hidupnya selalu bahagia. Lagipula kita tak akan pernah tahu apa itu bahagia kalau tanpa air mata, bukan?

Sebenarnya aku sempat ragu-ragu. Apa kau memang pengganti yang  selama ini kutunggu, atau kau hanya satu dari banyak orang yang kehadirannya di hidupku hanya numpang lalu?

Tetapi, setelah sekian kali aku melihatmu, aku menyadari,

Bahwa rindu tak harus berujung temu, karena semua rinduku padanya, kini membawaku kepadamu.

Aku tidak tahu akan seperti apa kita nanti,
Namun aku yakin, bersamamu, aku mau memulai segalanya kembali...

Minggu, 24 Agustus 2014

Tentang Mencari dan Menemukan

"Cinta akan selalu tahu kemana dia harus pulang, karena cinta takkan pernah salah menemukan dimana rumahnya."

Begitulah kira-kira kalimat yang pernah gue denger darimana gitu gue juga lupa.

Banyak orang mencari sampai ke seluruh dunia untuk sekadar menemukan belahan jiwanya. Kekasih hatinya. Cinta sejatinya. Tanpa pernah mereka sadar bahwa orang yang mereka cari selama ini tepat berada di sebelahnya. Duduk terdiam. menyaksikan orang yang ia cintai kelelahan setelah pencarian panjang. Bersedih melihat kekasih hatinya tak percaya lagi cinta sejati.

Terkadang apa yang kamu cari adalah apa yang sebenarnya sudah kamu miliki. - Dimas Tayo

Itu semua karena mereka melewatkan apa yang selama ini telah mereka temukan....

Banyak orang sudah mengetahui bahwa belahan jiwa mereka memang ada di sebelahnya. Begitu dekat sampai rasanya terlalu rapuh jika harus disentuh. Namun, tak pernah melakukan apa-apa untuk mebuatnya menjadi miliknya. Terlalu takut dia yang dicintai akan pergi. Dan pada akhirnya, mereka melewatkan lagi.

Banyak orang mencintai dalam diam, tahu mereka yang dicintai itu adalah kekasih hati, tahu mereka yang dicintai begitu dekat, tapi tak punya daya untuk bisa mendekat.

Begitu dekat, namun takkan pernah tergapai.

Sekali lagi, mereka melewatkan kesempatan itu dan terpuruk dalam pencarian yang sebenernya memang sudah ditemukan.

Sebenarnya gak ada orang yang takut mengutarakan bahwa mereka jatuh cinta, mereka cuma takut buat mendengar jawabannya.

Tak ada yang lebih membelenggu dari ungkapan cinta yang tak tepat waktu. - Dara Prayoga

Beberapa orang menunggu untuk ditemukan, beberapa lainnya sibuk mencari. Anehnya, mereka yang mencari tidak pernah sejodoh dengan mereka yang selama ini menunggu untuk ditemukan. Pada akhirnya mereka sama-sama kelalahan. Yang satu lelah untuk menanti, yang satu lelah untuk mencari.

Padahal menurut gue,

Cinta datang disaat kita tidak lagi mencari, seringnya dari orang yang tidak kita sadari.

Tahu apa yang lebih menyedihkan dari menanti? Menanti seseorang yang juga sedang menanti.

Gak ada yang lebih sia-sia dari waktu yang terbuang ketika kita memutuskan mencintai orang bebal.
Dan gak ada yang lebih sulit dan menyakitkan dari melihat orang yang kamu cintai dengan seluruh hati yang kamu punya, mencintai orang lain. APALAGI ORANG LAINNYA ITU SAHABAT KAMU SENDIRI.

 Jelas-jelas sadar orang yang dinanti tidak akan pernah dimiliki, tapi masih aja ngotot untuk mencintai.

Hei, cinta tidak sebodoh itu sehingga salah mengenali yang mana rumahnya. Kitalah yang bodoh karena terus memaksa masuk ke tempat yang memang bukan tempat cinta akan bermuara.

Gue rasa cinta gak melulu tentang mencari dan menemukan. Kadang, cinta cuma masalah penerimaan.
Cinta gak melulu tentang kebahagiaan. Kadang, cinta itu tentang pembelajaran.

Cinta bukan FTV yang sehari bisa muncul sampe 4 kali kayak dosis obat. Karena gue yakin cinta lo itu lebih indah dan gak cuma dua jam habis. Dan gue yakin, cinta lo sama FTV itu sama-sama bakal  berakhir bahagia.

Kita gak akan pernah bisa ngerasain manis kalo gak tahu apa itu pahit.
Pun kita gak akan tahu cinta mana yang harus kita pilih kalo kita gak pernah salah dulu sebelumnya.

Menurut gue gak sulit buat mecari orang yang bilang kalo dia sayang sama lo. Yang susah itu nyari orang yang bener-bener mengartikan rasa cintanya itu.

Pada akhirnya , kita hanya ingin terjatuh pada mereka yang meski sama penuh luka, tapi dipertemukan untuk saling menyembuhkan. - Dara Prayoga

Kesimpulannya : di saat kita tidak lagi mencari, di situlah kita akan menemukan. - Bernard Batubara

Agustus??? What A Month!!!!

Berhubung ini udah mau penghujung bulang Agustus, gue mau curhat sedikit lah ya pengalaman hebat gue bulan ini....

Agustus ini gue balik lagi sekolah kayak biasanya, bedanya sekarang rok gue warna abu-abu. Ada apa di SMA?? Gak ada apa-apa. Cuma ya (lagi-lagi) gue kehilangan temen deket gue. Well, gue masuk kelas X-MIA-4. Fyi, Mia itu sama kayak IPA cuma karena Kurikulumnya ganti, namanya juga ganti. Belum ngerti apa-apa sama anak kelas gue, tapi semoga aja itu yang terbaik dari Tuhan.

Ngomong-ngomong soal kurikulum, gue masuk ke kurikulum 2013 yang hebatnya bukan main. Boro-boro gue pernah mikirin main, kadang bisa pulang sebelum jam 3 sore aja gue udah bersyukur banget. Me time yang gue punya cuma hari Minggu, itu juga lebih sering gue pake di rumah buat istirahat. Seriously, this curriculum got me so insane. tapi gak papalah, menurut pemerintah itu supaya bisa memajukan Indonesia. Ya, walaupun menurut gue Indonesia gak akan pernah bisa maju karena gak ada manusia yang kuat ngedorongnya.

HAHAHAHAHAHAHA.......
HAHAHAHAHA......
HAHAHA.....
haaaaaaa..................

What else? Hmm.. Hari Senin kemarin gue baru aja kehilangan separuh jiwa raga gue yang punya nama lain handphone. Gimana kronologisnya? Jadi ya kira-kira jatoh di jalan gitu waktu gue pulang sekolah naik motor. Sebenernya gue lebih terpukul kehilangan kartu memorinya sih ketimbang hapenya. Isinya kenangan dari jaman gue kelas 3 SD dan sekarang hilang gitu aja. Sekarang gue bahkan gak punya foto diri sendiri. Semuanya hilang bersama hape itu. Kalo hapenya sih lebih karena merasa bersalah aja sama papa karena baru dibeliin 4 bulan lalu. Poor me. tapi gue yakin sih itu hape bakal balik lagi ke gue lengkap dan utuh gimana pun caranya. aamiin~

Kayaknya itu aja sih seputar bulan ini. Semoga bulan depan bisa membawa lebih banyak kebahagiaan dan tentu aja pelajaran........ aamiin~~~

Sabtu, 19 Juli 2014

(Un)important Question

Sekitar seminggu yang lalu di timeline twitter gue ada kuis buat dapet novel gitu. Alamiah banget kalo gue pengen langsung ikut. Cuma baru kali itu gue gak tertarik sama novelnya, tapi sama pertanyaannya. Jadi kurang lebih pertanyaannya itu;

"Lebih baik bersama orang yang menyayangimu atau bersama orang yang kau sayangi?"

Gue mikir. Gue gak bisa jawab. Yaudah aja pertanyaan itu gue copy ke grup whatsapp yang isinya anak idiot yang waktu itu gue ceritain sama ke beberapa orang temen gue. Bedanya, pertanyaannya gue tambahin jadi;

"Lebih baik bersama orang yang menyayangimu atau bersama orang yang kau sayangi? Lebih baik mencintai atau dicintai?"

Dan..................... Inilah jawaban mereka;;;;













Kenapa?








Ada juga loh yang debat......

ADUH SULIT~





Yaps. Things dont work the way you want it to. 

Sebenernya, dari jawaban-jawaban di atas itu ada kesamaannya kalo kita jeli.

Mayoritas cewe pilih untuk dicintai dan hidup bersama orang yang menyayanginya. Mayoritas cowo sebaliknya. Gak semua, tapi kebanyakan gitu.

Ironis. Kebanyakan perempuan mau dicintai tapi belum tentu mencintai. Cuma mau dapet tapi gak mau berbagi.
Sering kejadian ada yang suka sama kita, perempuan khususnya. Cuma dia gak bisa atau mungkin lebih tepatnya gak mau bales perasaan orang itu. Pas orangnya mau cari cewek lain, kitanya marah. Aneh.
Contoh kejadiannya ; Banyak.

Tuhan itu maha adil. Coba kalo common girls maunya dicintai trus common boys-nya juga gitu, kapan ketemunya? Emang sih yang gue tanya cuma beberapa orang, tapi udah keliatan kan mana yang milih dicintai mana yang milih mencintai?

Kalo gue? Im not agree with all the girls's common answer.

Menurut gue lebih baik mencintai daripada dicintai. Jujur emang capek mencintai orang yang gak mencintai kita balik, tapi menurut gue jauh lebih capek terus-terusan dicintai sama orang yang gak akan pernah kita cintai. Percaya, kita bakal terus-terus keganggu dan di satu titik pas udah capek kita bakal marah sama orang itu dan kalo orang itu sakit hati sama kita dia bakal marah dan ujungnya kita yang ngerasa gak enak. Lebih parah lagi kita bakal terus kebayang-bayang karena takut kena karma. Love is so complicated.

Tapi gue setuju. Lebih baik sama orang yang menyayangi kita. Menurut gue kata sayang itu jauh lebih tulus daripada cinta. Gue lebih menghormati orang yang sayang sama gue ketimbang cinta sama gue. Sama kayak gue lebih menghormati orang yang rela ngebuang pulsanya buat sms walaupun dia punya berbagai macem app chatting. Orang kayak gitu lebih worth to fight for. Coba, kalo sama pulsanya aja dia pelit apalagi sama kamu. #iyainajabiarcepet #alaUus

Pada akhirnya, kita bakal nemuin orang yang kita cintai dan juga balik cinta sama kita. Yang kita sayangin dan juga sayang sama kita.





Orang yang bisa kita percaya, orang yang kalo di depan dia kita gak akan pernah takut untuk kelihatan jelek. 

The one you trust isn't your real one, but the real one will be the one you can trust.

Kita gak bisa milih mau jatuh cinta sama siapa. Jatuh cinta karena apa. Yang kita tahu kita bakal jatuh cinta. Eventually. 

Cinta itu tentang dua hati yang mencari untuk saling menemukan, bukan yang satunya sudah menemukan, namun yang satunya masih sibuk mencari meskipun sudah ditemukan. ~ Falen Pratama

Sebenernya postingan ini postingan yang paling bikin gue bingung. Walaupun gue udah bilang lebih baik mencintai, tapi tetep aja rasanya gue gak nemuin jawaban yang gue mau.

Sampe paragraf terakhir postingan ini, gue tetep bingung sama apa yang sebenernya hati gue pilih.

Jadi, disayangi atau menyayangi? Dicintai atau mencintai???

Kamis, 10 Juli 2014

Years of Waiting~

Mungkin ada baiknya kalian dengerin lagu Untukku by Chrisye sambil baca postingan ini~

Dari mana aku harus memulai paragraf ini? Dari aku yang dengan bodohnya menunggumu, atau dari waktu-waktu yang terbuang saat aku menantimu?

Kalau begitu, biarkan aku memulai dari sini...

Aku tidak tahu kapan tepatnya aku menyadari perasaan ku ini. Sejauh yang aku tahu, tiba-tiba saja semua sudah terlambat.
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyukaimu. Namun ketika aku memulainya, aku tahu bahwa aku tak bisa berhenti.
Aku tidak tahu mengapa aku melakukan semua ini. Namun yang ku tahu, semenjak kepergianmu menanti telah menjelma menjadi hobi.

Ada banyak orang di luar sana yang menanti sesuatu yang tepat berada di depan wajah mereka. Sesuatu yang dapat disentuh oleh tangan mereka, namun hati tak mampu meraihnya.
Ada ribuan orang lain yang menanti untuk bertemu kembali. Berharap kesempatan kedua karena pada saat yang pertama mereka telah melakukan sesuatu yang sia-sia.

Dan di sini ada aku yang terus menunggu. Untuk sesuatu yang entah apa. Aku bahkan tidak tahu berharap apa untuk hasil penantianku ini.
Tapi aku tahu tujuanku adalah kamu...

Ribuan kata telah menjelma air mata ketika aku menyadari apa yang aku lakukan ini sia-sia.
Ribuan lagu sendu membuat hati bak disayat sembilu ketika tanpa sengaja aku memutarnya sebagai playlist untuk menunggu kedatanganmu.

Ironisnya sampai lagu yang kesejuta, kau tak kunjung datang menunjukkan air muka.
Bodohnya aku tetap melakukannya, menunggumu tentu saja, walau aku tahu itu semua sia-sia.
Tak sedetik pun aku menyesal,  kau tahu aku memang bebal.

Kau tak tahu seperti apa aku menunggumu. Cinta tak pernah menghadirkan kata jenuh. - Menunggu
Ada banyak kata tak terucap yang telah berubah menjadi prosa, mungkin saja suatu hari akan sempat kau baca.
Ada milyaran do'a  bercampur air mata, tentu saja untuk berharap kau baik-baik saja.

Sebut aku bodoh karena terus mendo'akanmu yang tak pernah sedetikpun peduli padaku.
Sebut aku tak tahu malu karena mengharapkanmu yang tak pernah mengindahkanku.

Cintalah yang membuat kita mampu menunggu takdir, hingga waktu berhenti. - Gurun Bercerita Cinta

Aku tahu cinta bukan perkara memiliki, karena menurut salah satu penulis favoritku dibukunya ; "banyak yang memiliki tapi tak harus cinta."

Coming to your way
High winds bringing the cold rain
I'm still here waiting
#CintaDenganTitik

Detik demi detik berlalu, namun yang ku mau tetap kamu.
Jam demi jam berdetak, namun yang ku tunggu tetap tak nampak.

Kini, aku malah bingung bagaimana aku harus menutup paragrafku. Dengan cerita indah yang memang tak mungkin bersamamu, atau dengan tangis sesenggukkan yang tak kunjung berhenti sejak aku kehilanganmu?

Suatu saat, cinta akan membuatmu mengerti, bagaimana rasanya memiliki seseorang hanya lewat sebatas harap. - Robin Wijaya

Aku tak akan berkata dengan penuh percaya diri bahwa Tuhan menciptakanmu hanya untukku. Sebesar apapun rasa yang kimiliki untukmu, aku tak akan seegois itu. Kau berhak mempunyai hidupmu sendiri dan menentukan apa yang akan kau pilih.
Namun, benar. Percayalah. Dimanapun kau berada kini, di sanalah cintaku akan menepi.

Kau tak perlu tahu aku siapa, itu semua hanya akan menghancurkan hidupmu. Namun kelak jika rangkaian kata ini kau baca, kau harus tahu sampai saat itu aku masih menantimu.

Ada orang-orang yang memilih untuk menanti. Bukan karena bodoh atau tak punya pilihan. Mereka hanya percaya yang terbaiklah yang tengah mereka tunggu. ~ Robin Wijaya 

"Kau tahu, orang asing, kenapa seseorang bisa menunggu sangat lama untuk hal yang mungkin tak pernah ada?" milana berkata.
"karena," katanya. "lebih baik memiliki seseorang yang kau tunggu, daripada tak memiliki seseorang sama sekali." - Bernard Batubara

Sabtu, 28 Juni 2014

3 Years With You~

Im a SHS student now!!!!!!! wohooooooooo\m/ no more putih biru. hehe

Kemarin gue baru aja diterima sama gebetan  di salah satu hati mantan SMA Negeri favorit di daerah gue.

Tanggal 23 kemarin juga gue abis perpisahan. Sedih sebenernya mau ninggalin SMP dan teman-teman idiot yang paling gue cintai sepanjang masa. But life goes on, semoga suatu hari nanti pas gue ketemu mereka lagi, masing-masing dari kita udah berhasil ngeraih apa yang kami cita-cita kan. Aamiin.

Sebenernya di postingan ini gue pengen nginget nginget hal-hal seru yang gue alamin selama 3 tahun kebelakang di SMP. Ya siapa tahu aja suatu hari nanti gue mendadak pikun akut, pas baca ini jadi inget lagi.

Kenangan berharga, senang atau sedih, gak akan bisa dibeli pakai mata uang apapun di dunia ini.


Lets play Ingatlah Hari ini by Project Pop on repeat.

Kamu sangat berarti 
Istimewa di hati
Selamanya rasa ini~

Pertama kali gue tahu kalo gue di terima di SMPN 1 Citeureup, waktu itu gue lagi di Palembang. Eyang gue waktu itu baru aja meninggal. Jadi yang ngurus-ngurusin pendaftaran guru SD gue semua.

Lupain soal itu, gue mau mulai cerita ini pas pertama kali gue MOPD.

Gue gak inget persis tanggalnya, tapi seinget gue hari Senin. Gue mulai MOPD dan masuk di gugus 2. Di gugus 2 seru, anaknya asik, gampang berbaur dan bergaul. Dan tahu-tahu gue udah punya banyak temen. Sampai suatu hari negara api menyerang pas hari ke dua atau ke tiga MOPD gitu, ada satu anak, sebut aja namanya Loreng, masuk di gugus 2. Gue sih biasa aja sama orang itu, toh kenal juga engga. Sampe tiba-tiba pas istirahat, temen gue ada yang bilang gini;

"Far, tau gak? Kata si Loreng kamu sok imut. Suara aja di mirip-miripin sama anak kecil."

Jujur aja gue mau nangis saat itu juga pas dikatain kayak gitu. Hey, gue terlahir dengan suara kayak begini. Mau lo suka atau engga, suara gue gak bakalan berubah karena gue gak akan tumbuh jakun. Kejamnya dirimu menghina suaraku. Kita bahkan gak kenal kan waktu itu T.T



Gue lemah kalo udah dikatain suaranya, mau ngelawan juga sakit hatinya udah keburu dalem.

Sudahlah kita lupakan saja itu si loreng~

Selesai MOPD, murid-murid baru dibagi kelasnya. Anak-Anak gugus 2 rata-rata masuk kelas 72, tapi gue dengan suksesnya menclang di 73. Dengan suksesnya juga gue nangis kejer pas sampe rumah. Gue bilang aja ke emak gue supaya dia nyogok sekolah biar gue dipindahin ke kelas 72 karena gue gak ada temen di 73. Sungguh pikiran yang ke kanak-kanakan.

Ya tapi hari-hari berlalu dan gue pun mulai sedikit betah di 73, sampai suatu hari, susunan kelas bakal di rombak lagi. Gue panik setengah mati karena sekarang gue gak mau pindah dari 73, terserah lo mau bilang gue menjijikkan, karena gue udah jijik duluan. Fortunately, gue tetep di 73. Hahaha

Tiba-tiba aja waktu berjalan dan gue sampai di penghujung kelas 7, Sedih banget waktu mau ninggalin 73. Dan -lagi lagi- gue nangis.

Hai teman-teman 73 ku, mengapa kalian sombong sekaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii~

Kelas 8, gue masuk di 81. Dan disinilah gue bertemu dengan orang-orang idiot yang sangat lovable yang entah diciptakan Tuhan dari apa. Kalo kata wali kelas gue kelas 8 dulu, anak-anak 81 tuh harusnya di taruh aja di cagar alam karena patut dilindungi dan statusnya hampir punah.

Lo pernah di sms sama 'emak' nya temen lo dan bilang kalo anaknya meninggal ketabrak truk? dan keesokan harinya anaknya itu masuk sekolah dengan sehat walafiat dengan muka cengengesan dan bilang kalo dia bercanda? BERCANDA APA KAMU TOH NDUKKK??????

Gue rasa cuma anak 81 yang otaknya nyampe kesitu~
Gue rasa cuma anak 81 juga yang ngadain bukber 2 hari sebelum lebaran. Gue udah bilang kan kalo kami itu idiot?
Apalagi waktu study tour ke Jogja, ah udahlah itu mah kalo diceritain ntar tangan gue keriting.

(inilah kurang lebih penampakan orang-orang idiot itu.)

Hei kalian anak 81, flashback aja kalo mau di kolom komen yakkkkkkkkkkkkkk~

Gue udah bilang belom kalo di 81 gue di buatin grup khusus nan special? Nama grupnya "Fara Haters. Grup Anti Fara" waw, belom jadi artis aja gue udah dibikinin grup begituan. Legit.

Nope, anggota grup itu sekarang temen gue semua kok.

I Love You guys to the Andromeda and back~

Kelas 9? gue masuk 9.10. Kelas yang KATANYA isinya anak pinter semua. Buat apa pinter tapi gak setia pelit? Satu lagi masalah anak 9.10 adalah orangnya pada tak acuh. Gue gak tahu apa semua orang pinter itu anti sosial? tapi untuk beberapa hal, anak-anak 9.10 itu asik kok. Menyebalkan tapi ngangenin gitu lah pokoknya.

Dan di 9.10 itu juga gue nemu orang-orang ini,,,

(dari kiri ke kanan: Kiki, Ajeng, Taylor Swift Muslimah, Aldi.)

Gak tau deh 9.10 bakal jadi segaring apa tanpa mereka~~~
Semua hal. SEMUA. yang kita berempat omongin pasti gak ada yang penting. tapi tetep aja jatohnya seru. Deket mereka itu pasti bahagia.

Tentu aja temen-temen gue bukan cuma dari 73,81, atau 9.10. tapi kayaknya kalo gue ceritain satu-satu bakal jadi novel.

Dan, disinilah gue sekarang. Secara status gue udah bukan murid SMP, tapi gue belum masuk SMA. Dan gue bakalan pisah sama-sama manusia-manusia antik yang entah bakal gue temuin dimana lagi.

Jujur aja gue masih betah lama-lama sama mereka, tapi bukannya hidup itu dimana semua yang terjadi belum tentu sama dengan apa yang lo inginkan?

The world isn't a wish granting factory. - The Fault in our stars

Gue, secara pribadi, teramat sangat berterima kasih. Terima kasih buat kalian semua yang gak bisa gue sebutin satu-satu tapi gue yakin kalian tahu siapa kalian. Terima kasih untuk pelajaran berharganya selama 3 tahun ke belakang. Hidup gue gak akan sama tanpa kalian. Terima kasih karena udah jadi alasan gue ketawa, sekaligus alasan gue kecewa. Kalo suatu hari nanti ada orang yang nawarin dunia ini beserta isinya untuk dituker sama kenangan gue bareng kalian, gue bakal nolak orang itu mentah-mentah. You guys are more more more and more precious than this cruel stupid world. 

Terima kasih karena udah jadi bagian hidup gue. Udah jadi salah satu tempat gue belajar tumbuh dewasa. Kalian orang-orang yang paling gue benci, sekaligus paling gue cintai.

I can't say how grateful I am to ever find you, but most of all, Im so thakful because I ever know you.

Gue mungkin bukan temen yang sempurna buat kalian, tapi kalian pelajaran hidup paling membahagiakan buat gue. Cerita hidup kalian adalah buku yang gak akan pernah bosan gue baca, dan pelajaran yang gak akan pernah selesai gue pelajari.

Setelah apa yang udah dilewatin, semoga kalian berkenan buat terus inget sama gue. Gue yakin di suatu hari tanpa nama nanti, kita bakal jadi sesuatu yang sebelumnya gak akan pernah kita bayangkan.

Sampai saat itu, gue bakal terus sayang sama kalian.

Mungkin nanti di SMA gue bakal nemuin temen yang jauh lebih asik dan seru dari kalian, tapi toh tetep cuma kalian temen SMP gue.

Im so lucky to have y'all, and I hope y'all feel the same about me.

Last, but not least, Selamat berjuang. Selamat jadi orang sukses. Selamat untuk hidup bahagia yang akan kalian tempuh. dan selamat untuk cita-cita yang akan kalian dapat. I Love You~









And that oblivion is inevitable, and the sun will swallow the only earth we'll ever have. And Im in love with you. - The Fault in Our Stars

Terima kasih,,,,,,  Meski akan selalu terasa kurang.



Jika tua nanti kita tlah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini~ 

Rabu, 21 Mei 2014

Perubahan

Engga. Tentu aja gue gak mau ngebahas tentang salah satu partai di negeri tercinta ini.

Gue mau ngabahas tentang perubahan yang udah atau mungkin akan terjadi di dalam hidup.

***

Kita, sebagaimana manusia biasa pasti udah akrab sama yang namanya perubahan. Pertama-tama kita cuma embrio terus berubah jadi janin, lahir jadi bayi, terus gede deh jadi diri kita yang sekarang. Proses itu secara gak sadar bikin salah satu bagian dari diri kita berubah kan?

Dulu waktu kecil yang ada di otak kita cuma main. Makan aja kita males, tidur apalagi. Sekarang, setelah berbagai macam aktivitas yang kita jalanin, kita maunya seharian tiduuuurrr aja. Maunya balik jadi anak-anak lagi aja. Padahal, dulu waktu masih jadi anak-anak kita pengen cepet-cepet gede biar gak dilarang-larang terus sama orang tua.

"masih kecil, belum boleh."

Pernyataan sialan itu yang bikin kita pengen cepet-cepet dewasa. Sekarang? Nyesel.

Dan tentu aja dari semua hal itu ada dua hal yang perubahannya kelihatan paling jelas. Pola pikir dan sudut pandang. Semakin bertambah besar (tentu saja umurnya bukan badannya) kita memandang dunia ini pun dari sudut pandang yang lain. Dari sudut pandang yang sebelumnya gak pernah kita pikirkan apalagi bayangkan.

Dan dari semua perubahan yang ada itu, yang mau gue bahas sekarang adalah perubahan yang terjadi sama orang-orang di sekitar kita.

Lo semua pasti pernah punya kan 1 atau 2 teman yang dulu akrab banget tapi sekarang berubah jadi kayak orang gak kenal?
Gak pernah berantem, gak pernah bertengkar tapi tiba-tiba aja kalian berhenti berhubungan. Semudah itu ternyata suatu pertemanan bisa berakhir.

Mungkin ada yang masih berteman baik, tapi tetep aja gak sedekat dulu. Entah apa sebabnya, mungkin mereka berubah.

Mungkin mereka berubah....

Engga. Sebenernya mereka gak berubah. Mereka tetap jadi diri mereka kok, yang beda cuma mereka berhenti jadi apa yang kita mau. Maksudnya, mereka udah bukan mereka yang kita inginkan dan kita gak bisa nerima diri mereka yang baru itu. Bahkan yang lebih buruk, mungkin aja sebenernya kita yang berubah tapi kitanya gak sadar.

"Ya orang mana bisa selamanya sama. - Raditya Dika"

Iya, mereka gak bisa selamanya jadi apa yang kita inginkan, dan kita juga gak bisa selamanya berdiam diri di satu posisi.
Musim aja ganti-ganti, masa iya kita mau gitu-gitu aja.

Sebenarnya gak ada yang salah sama perubahan, mungkin yang bikin banyak pertentangan adalah soal penerimaan. Harusnya kita bisa menerima dan menghormati keputusan orang lain untuk berhenti menjadi dia yang selalu ingin kita lihat. Sama kayak kita juga ingin orang lain nerima kita apa adanya. Bukannya egois kalo kita mau diterima, tapi kita gak melakukan hal yang sama ke orang-orang di sekitar kita?

Mungkin kalo kita bisa nerima perubahan yang ada di diri mereka, kita gak akan kehilangan orang-orang yang pernah dekat itu kan? Pasti akan ada banyak persahabatan dan hubungan yang bisa diselamatkan berkat penerimaan itu.

As a human, tentu aja punya naluri alamiah untuk mencoba hal-hal baru. Sayangnya, sekali lagi, hal-hal baru itu belum tentu semua orang bisa nerima.

Suatu hari gue pernah ketemu temen lama gue, selain badannya yang nambah tinggi, gak ada lagi yang berubah dari dia. Orangnya tetep asik sama kayak apa yang gue kenal.

Terkadang, saat kita lihat ke diri orang lain dan berkata bahwa dia udah berubah harusnya pada saat yang sama kita juga bertanya pada diri sendiri. "Emang dia yang berubah, atau malah gue yang berubah?".

Dulu waktu gue masih kecil dan walaupun sekarang gue belom gede, gue sukaaa banget main. Iyalah, anak kecil mana yang gak suka main? Gue ngeliat orang-orang itu sebagai teman, musuhan itu cukup pas siangnya aja, pas main lagi sorenya, baikan lagi. Gue juga selalu jadi buntut emak. Kemanapun emak pergi pasti gue ikutin, kecuali ke kamar mandi.

Sekarang gue selain berangkat sekolah bawaannya males banget keluar rumah. Ngeliat matahari juga rasanya kayak bakalan meleleh. Selain main ama temen yang udah deket banget, gue gak bakal mau diajak keluar. Parahnya, gue juga jadi kurang perhatian sama lingkungan sekitar. Lebih tepatnya sih gue perhatian, cuma cara nunjukkinnya aja yang beda.

Suatu hari nyokap pernah ngomong,

"Kamu mah diajak kemana juga males banget. Keberatan pantat."

So I reply her,

"Loh, bukannya dulu mama yang sebel aku ikutin terus? Ngatain aku jadi buntut? kemana-mana ikut terus."

Gue tahu ada sedikit senyum penyesalan di muka nyokap gue waktu itu, makanya gue tambahin,

"Makanya dulu waktu aku masih mau diajak kemana-mana, nikmatin aja, Mah. Sekarang aku udah gak mau lagi juga jadi aneh kan?"

Nyokap cuma senyum aja waktu gue ngomong gitu. Jujur aja sebenernya gue juga sedih..... Gue sedih karena toh gue juga gak tahu berapa lama lagi waktu yang bisa gue habiskan sama kedua orang tua gue. Gue bersyukur karena dari semua orang-orang yang pernah singgah di hidup gue, cuma mereka dan kakak gue yang memutuskan untuk tinggal. Mungkin nanti ketika tiba saatnya gue bakal nemuin beberapa orang lagi yang akan memutuskan untuk tetap tinggal, tapi sampai saat itu gue gak akan pergi kemana-mana dan akan terus menjadi Fara yang mereka kenal. Gue akan terus berada di rumah ini, rumah yang gue sebut sebagai keluarga.

Ternyata, apa yang waktu perbuat sama kita bisa lebih kejam dari penjahat manapun. Dia ngubah kita jadi sesuatu yang sebelumnya kita bilang ke diri kita sendiri bahwa kita gak akan pernah jadi seperti itu.

Semakin gede, gue semakin tahu kenapa Squidward bisa sebegitu bencinya sama orang-orang -atau lebih tepatnya ikan-ikan.- Gue, dan mungkin kalian juga pasti pernah benci sama seseorang tanpa alasan. Mereka gak pernah ngeganggu kita tapi tetep aja rasanya setiap hal yang mereka lakuin tuh nyebelin.

Kembali ke topik, gue cuma mau bilang;

Terimalah orang yang kita sayangi sebagaimana diri mereka , bukan sebagaimana maunya kita. Jangan sampai karena keegoisan kita, mereka malah nemuin orang lain yang bisa nerima mereka apa adanya.

We never lose, we just learn.

dan tentu aja pandai-pandai lah bersyukur. Segala sesuatu akan terasa sangat berharga ketika itu bukan lagi jadi milik kita. Makanya, selagi masih jadi milik kita, rawat dan jaga.

Sebenernya orang-orang itu gak pernah berubah. mereka cuma dipisahin sama jarak dan waktu. Itu sebabnya, mau gak mau mereka jadi berbeda.

Jadilah orang yang bahagia karena pernah memiliki, bukannya orang yang menyesal karena pernah melewati.

Apapun bentuknya, yang namanya perubahan itu pasti akan terjadi. Itu semua tinggal gimana cara kita menyikapi perubahan itu.

Senin, 12 Mei 2014

Tentang Jatuh Cinta untuk Kali Pertama

Gue nulis ini gara-gara gue baru aja pulang nonton Marmut Merah Jambu. Sialan emang, memori-memori kecil yang udah sengaja gue simpen jadi keluar lagi gara-gara filmnya Raditya Dika.

Sebelumnya gue review singkat dulu filmnya yaa...

Film ini film ke 5 Radit dari buku ke 5 nya. Film ini juga debutnya Radit sebagai sutradara. Jadi Radit disini berperan sebagai aktor, penulis naskah, dan  juga sutradara. Walaupun debut, tapi gue berani bilang kalo he did his job well.

Ceritanya tentang Raditya Dika sama temennya yang bernama Bertus. Difilm ini mereka masih SMA. Radit sama Bertus ceritanya kepengen banget terkenal di sekolahnya, akhirnya mereka membentuk grup detektif yang namanya "Tiga Sekawan". kenapa tiga? iya karena mereka dibantuin sama temen mereka yang namanya Cindy.

Kan tadi gue udah bilang kalo reviewnya bakalan singkat, jadi yaudah reviewnya segitu aja. Kalo mau tahu lebih lanjut ya tonton sendiri.

Kalo dari segi lucunya, gue tetep lebih suka Manusia Setengah Salmon daripada MMJ. tapi kalo dari segi nilai kehidupan atau yang lebih diangkat di film ini tentang cinta pertama, film ini emang film bang Radit yang paling keren -sejauh ini-.

Ada satu hal yang kayaknya pengen bang Radit sampein lewat film ini, yaitu

ketampanan dan kepopuleran gak akan menjamin sepenuhnya masa depan lo. 

Pokoknya pulang dari nonton film ini gue jamin lo langsung nyari tahu dimana keberadaan cinta pertama lo saat ini.

***

Balik ke topik, tentang cinta pertama. Pulang dari bioskop tadi gue langsung muterin lagu SO7- Anugerah terindah yang Pernah Kumiliki. Jadi ada baiknya lo baca sambil denger lagu itu.



Cinta Pertama~

Tulisan diatas emang gak ada namanya, tapi gue yakin di pikiran dan benak kalian masing-masing langsung terucap satu nama. Satu nama yang sama sekali gak asing. Satu nama yang pernah atau mungkin masih sangat kalian cintai. Satu nama yang gak akan tertutup sama ribuan nama lain sesudahnya.

Jadi, udah tahu siapa namanya? Sekarang coba jawab,

Sejak kapan kalian jatuh cinta sama dia?
Apa kalian masih jatuh cinta sama dia?
Kenapa kalian sampe bisa jatuh cinta sama dia?
Apa cinta pertama kalian itu tahu kalo kalian cinta sama dia?
Kalo engga kenapa bisa dia sampe gak tahu perasaan kalian?
Kalian malu nyatainnya?
Sekarang nyesel?

Pertanyaan diatas sebenernya juga gue tanyain ke diri sendiri. Dan iya, gue nyesel.

Belajar dari pengalaman, gue tahu gimana rasanya nyesel atas sesuatu yang sebenernya bisa, tapi gak pernah gue lakuin karena takut buat mencoba. Bodoh. Darimana coba gue bisa tahu kalau gue bakal gagal, kalau baru satu langkah gue niat mau nyoba, rasa takut gue udah ngebakar habis sisa-sisa keberanian yang gue punya. Dan disaat semua itu udah terjadi, penyesalan pun cuma bakal jadi lada yang salah masuk ke adonan kue brownies. Kue browniesnya gagal, gak bisa di makan atau dijadiin apa-apa.

Beruntunglah kalian yang bisa ngalahin rasa takut, malu, dan gengsi yang ada di diri kalian. Setidaknya walaupun gagal tapi kan lo udah pernah mencoba. Lo juga gak akan hidup dengan beberapa pertanyaan yang bakal ngeganggu lo seumur hidup,

"Dia sebenernya suka sama gue juga gak???"
"Sendainya waktu itu gue bilang, apa dia bakal......"

dan macam-macam pertanyaan lainnyaa...

Dan lebih beruntunglah lagi kalian yang pernah menjadi cinta pertama di hidup seseorang...... Setidaknya nama lo bakal terus diinget dan hidup. Walaupun gak di hidup seluruh orang di dunia, tapi di seluruh dunia dan hidup seseorang.

Buat lo yang sekarang masih bisa berhubungan sama cinta pertama lo, mending bilang deh ke dia tentang apa yang pernah atau mungkin masih lo rasain ke dia. Dijauhin itu resiko. Denger ya kata-kata gue baik-baik,

Hidup lo terlalu singkat untuk menjadi biasa-biasa aja.

Ambil dan tanggung resiko sebanyak yang lo bisa, dan kalaupun gagal, setidaknya lo punya satu naskah draft baru yang bisa lo ceritain ke anak-cucu lo kelak.

Kita gak bakal tahu seberapa jauh jarak bisa misahin kita sama orang yang kita sayang. Selagi jarak kita masih sebatas langkah kaki dan beberapa digit nomor telepon, ungkapin aja apa yang mau kita ungkapin.
Gue pernah baca satu kalimat,

"Jarum jam gak akan pernah berputar ke arah kiri."

Ya. benar. Waktu yang pernah lo miliki dan udah terlewati, selamanya dia gak akan pernah kembali. Itu sama aja lo berharap sayur sop yang dimasak ibu lo 2 hari lalu bakal balik enak lagi kalo lo panasin selama 2 jam.

Gue juga mau kok ngungkapin apa yang pengen gue ungkapin seandainya aja gue tahu jarak macam apa yang misahin gue sama orang yang gue suka. Yatapi kan hidup gak semudah ngupil. Ngupil aja pake perjuangan. Untung di dunia ini udah ditemukan konsep move on, jadilah hidup gue saat ini baik-baik aja walaupun dalam tanda kutip.

Nah, sekarang buat lo semua, masih mau mendem perasaan kalian? Masih mau dihantuin sama pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya jelas-jelas udah terukir di depan mata kalian?
Ungkapinnnn!!!!!! Sebelum waktu sama jarak bekerja sama untuk mengambil apa yang kalian cinta.

Lebih baik hidup dalam penolakan daripada terbunuh sama rasa kesepian dalam sesaknya penantian yang mengharapkan sebuah pertemuan. Dan gak ada yang lebih menyiksa dari pada satu tanya yang sesungguhnya cuma minta satu jawaban dari semua rasa.

Inget aja, waktu gak akan pernah kembali, gak peduli siapa kalian, dan apa yang kalian punya. Waktu ada supaya kita bisa menghargai apa-apa saja yang masih menjadi milik kita sebelum semuanya diambil dan penyesalan hanyalah rasa yang sia-sia.

Sekarang, ambil teleponnya, inget siapa aja orang yang pernah ataupun masih kalian cinta, dan selamat menemukan banyak cerita~

Minggu, 20 April 2014

Cerpen : Sebuah Janji Tentang Selamanya




"Kita bakal kayak gini terus kan, Di?" Tanya si gadis sambil terus menggenggam erat tangan kekasihnya.

"Hmm" Sang kekasih hanya menganggukkan kepala dan tersenyum ke arah si gadis.

"Selamanya?"

"Selamanya!"

"Janji?" Mata si gadis mulai berkaca-kaca ketika ia menatap mata kekasihnya.

"Janji!" Sang kekasih tersenyum sambil mengangguk mantap.

Si gadis pun hanya bisa tersenyum dan ikut mengangguk. Saat ini, yang ia inginkan hanyalah supaya waktu dapat berhenti dan ia bisa bersama kekasihnya untuk selamanya.
Namun, tiba-tiba saja kekasihnya melepaskan tangannya dan pergi bahkan tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.


***

"Adi!!!!" Teriak gadis itu. Ia lagi-lagi terbangun karena mimpi itu. Mimpi yang selama beberapa tahun belakangan mati-matian ia coba untuk lupakan. Mimpi yang terus mengganggunya. Mimpi tentang seseorang. Seseorang yang pernah sangat dicintainya, namun telah lama hilang. Seseorang yang pernah menjanjikannya tentang selamanya...

"Khansa!!"

Ya.Gadis itu bernama Khansa. Khansa Putri Ganesha. Usianya 19 tahun, dan kini ia tengah menjalani semester 2 kuliah hukum di salah satu Universitas ternama di Indonesia.

"Iya, Ma. Tunggu sebentar." Khansa turun dari tempat tidurnya dan menghampiri meja rias yang ada di samping lemari baju. Ia mencoba menghapus sisa-sisa air mata yang masih tertinggal karena mimpi kurang ajar yang terus menerus mengganggu tidur malamnya. Ia tidak ingin mamanya tahu dan khawatir. 

"Malam ini. Aku janji malam ini terakhir kalinya kamu ganggu aku, Di! Aku capek." Khansa berkata pada dirinya sendiri di depan cermin. Gadis manis itu tetap terlihat cantik dengan rambut ikal sebahunya walaupun ia baru bangun tidur.

"Khansa..." Wanita yang dipanggilnya mama itu memanggilnya lagi.

"Iya, Ma. Khansa turun." Gadis manis itu pun keluar kamar untuk menghampiri wanita yang sedari tadi memanggilnya.

Wanita yang dipanggil mama itu sudah menunggu Khansa di ruang keluarga. Tatapan mata wanita itu sangat teduh memancarkan kenyamanan dan kehangatan, mencerminkan sosok ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya. Usianya sudah memasuki kepala lima, namun kecantikannya seolah tak mau pudar begitu saja.

"Kok lama banget turunnya, Sayang?" Wanita itu tersenyum ketika melihat anaknya menghampirinya.

"Abis ke kamar madi dulu tadi. Emang kenapa sih, Ma? Ini kan hari Minggu aku gak ada jadwal kuliah apa-apa." Khansa bertanya sambil membaringkan badannya di atas sofa depan televisi.

Mama Khansa hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Sudah tidak aneh kalau anaknya itu akan marah jika dibangunkan  sebelum matahari mulai meninggi. Apalagi ini hari Minggu. Namun, yang mamanya tidak tahu adalah sebenarnya Khansa sudah bangun dari tadi, hanya saja ia memang belum ingin keluar dari kamarnya.

"Kamu lupa ya? Hari ini kan mas mu pulang dari Surabaya. Kamu sendiri yang bilang mau ikut jemput. Pesawatnya dateng 2 jam lagi, loh." Kata mama Khansa tanpa melepaskan senyum hangat dari bibirnya.

"Oh iya! Aku lupa!" Khansaa bangun dari atas sofa sambil menepuk keningnya cepat.

"Yaudah Khansa mandi dulu ya, ma! Sebentar!" Khansa langsung lari ke kamarnya untuk mengambil handuk, dan setelah itu ia langsung bergegas ke kamar mandi.

***

Suasana bandara pagi ini cukup ramai, maklum saja ini hari Minggu. Mungkin banyak orang yang baru pulang dari liburan panjangnya. Khansa sedang duduk bersama mamanya di ruang tunggu kedatangan. Hari ini kakak yang paling ia sayangi pulang dari Surabaya. Kakaknya akan tinggal bersama ia dan mamanya selama libur semester akhir kuliahnya. Ya, kakaknya memang kuliah di surabaya, ia mengambil jurusan kedokteran disana.

Khansa sangat menyayangi kakak satu-satunya itu, karena ia satu-satunya lelaki yang dekat dengan Khansa. Ayah Khansa meninggal beberapa tahun lalu akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat terjadi gempa yang sempat memporak porandakan Jogja beberapa tahun silam. Khansa dan keluarganya sempat tinggal di rumah nenek dari mamanya selama 2 tahun, sebelum mamanya kembali sukses menata karir dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jogja. Namun, kakaknya tetap tinggal karena ingin kuliah disana. Sesekali kakaknya itu mengunjungi Khansa dan mamanya di Jogja seperti sekarang ini, ataupun juga sebaliknya.
Gempa itu pula yang memisahkan Khansa dari lelaki yang paling dicintainya. Lelaki yang hilang bersama reruntuhan bangunan di kompleks perumahan mereka dulu. Lelaki yang entah mengapa dipercayai Khansa bahwa sebenarnya ia masih hidup...

"Khansa!!" Teriak seorang lelaki bertubuh tinggi dan berbadan tegap. Matanya memancarkan kebahagiaan walaupun tersembunyi di balik kacamata hitam yang dikenakannya. Kulitnya tidak hitam, walaupun memang tidak terlalu putih. Ia terlihat tampan dengan rambut ala Taylor Lautnernya dan gayanya terlihat santai dengan hanya menggunakan polo shirt dan celana pendek selutut.

"Mas Satrio!" Khansa berlari ke arah lelaki itu. Ya, lelaki itu adalah kakak satu-satunya Khansa. Satrio Putra Abimata.

"Mas Satrio apa kabar? Bawa oleh-oleh apa buat aku? Nenek apa kabar? Dia titip sesuatu buat aku?" Khansa menghampiri kakaknya dengan membawa sederet pertanyaan.

"Duh,, masnya kan baru dateng, nanyanya nanti aja dong di rumah." Lelaki itu menjawab sembari tersenyum.

Khansa hanya tersenyum mendengar jawaban kakaknya. Ia langsung menggandeng lengan kakaknya yang yang tidak membawa koper. Usia Khansa dan kakaknya memang tidak terpaut jauh, itulah sebabnya jika mereka sedang berjalan beriringan, banyak orang yang mengira mereka pacaran.

Tak seberapa jauh dari tempat Satrio dan Khansa berdiri, seorang wanita sedang memandangi kedua anaknya itu sambil tersenyum. senyum yang tetap cantik menghiasi wajah tuanya. Wajah yang sudah banyak menghadapi cobaan hidup.

"Mama apa kabar?" Tanya satrio sambil mengecup pipi mamanya.

"Baik. kamu apa kabar, Nak? Nenek gimana?" Mamanya bertanya sembari mereka berjalan menuju parkiran.

"Aku juga baik kok, Ma. Nenek juga. Oh iya, nenek juga nitip sesuatu buat mama. Satrio gak tahu apa, tapi barangnya ada di koper." Kata satrio sambil menepuk kopernya.

"Oh iya, mama emang nitip album-album foto lama ke nenek."

"Kita makan dulu ya? Aku laper banget nih!!" Khansa memotong pembicaraan mama dan kakaknya. Ia memasang wajah memelas sambil memegangi perutnya.

"Boleh." Mamanya menjawab sambil tersenyum.

**

Hari ini hari senin. Hari yang paling dibenci hampir semua orang di dunia. Namun, tidak bagi Khansa. Khansa paling menyukai hari Senin, karena hanya pada hari ini mata kuliahnya tidak terlalu banyak dan melelahkan.
Khansa sedang duduk bersama sahabatnya, Aura, di kantin kampus. Masih satu jam lagi sebelum mata kuliah pertamanya dimulai.

"Sa, lo tahu gak? kan katanya ada anak baru pindahan dari Jakarta. Dia katanya satu jurusan sama kita. terus katanya anaknya ganteng." Aura bercerita tanpa henti. 

Khansa mengenal Aura sejak SMA. Khansa tahu segalanya tentang Aura, begitu juga sebaliknya.

"Emang iya? Oh..." Jawab Khansa malas. Khansa memang tak pernah tertarik dengan hal-hal berbau lelaki ganteng yang sering dibahas Aura.

"Iya!!Ohiya, kalo gak salah, namanya Adi!." Kata Aura sambil memasukkan potongan bakwan ke mulutnya.

Tubuh Khansa langsung meremang mendengar nama itu. Nama yang paling ingin ia lupakan, sekaligus nama yang paling ia rindukan. Aura memang tahu segalanya tentang Khansa, namun tentang hal yang satu ini, hanya Khansa, mama, dan mas Satrio yang tahu.
Namun sepertinya Aura menyadari perubahan gerak tubuh Khansa.

"Lo kenapa, Sa?" Tanya Aura khawatir sambil memasukkan potongan bakwannya yang kedua. Untuk ukuran seorang perempuan, porsi makan Aura memang melebihi rata-rata. Namun, ia tidak pernah punya masalah tentang kelebihan berat badan. Itulah salah satu hal yang membuat Khansa iri pada Aura.

"Hah? Gak papa kok. Gue cuma jadi ikutan laper aja ngeliatin lo makan melulu. Gue pesen ketoprak dulu ya." Khansa pun berjalan meninggalkan Aura untuk menghampiri Bu Sum, tukang ketoprak langgananya.

Khansa terlalu terburu-buru sehingga ia tak menyadari ada orang di depannya. Khansa pun menabrak orang itu dan membuat teh yag dibawa orang itu tumpah ke bajunya.

"Eh, aduh, sorry-sorry gue gak liat ada orang." Kata Khansa menunduk merasa bersalah.

"Eh gak papa kok. Suer deh gak papa." lelaki yang ditabrak Khansa itu berusaha menenangkannya.

Khansa pun menatap ke arah lelaki itu dan sedikit limbung. Lelaki itu memang tampan, ya Khansa tahu. Namun, bukan karena itu Khansa limbung. Ia limbung karena wajah lelaki itu mirip seperti wajah lelaki yang dikenalnya. Lelaki yang sangat dirindukannya.

"Lo kenapa?" lelaki itu menangkap khansa yang sudah hampir terjatuh.

"Sorry ya, tadi gue gak sengaja." Khansa berusaha bersikap setenang mungkin dan tersenyum sewajarnya.

"Iya gak papa kok, gue maklum." lelaki itu tersenyum ke arah Khansa. Senyum yang mengembalikan beberapa ingatan kecil Khansa.

"Ohiya, kenalin, gue Adi."

Dan kali ini, dunia Khansa pun menjadi gelap.

**

Khansa terbangun di suatu ruangan berbau obat. Khansa dengan cepat menyadari bahwa itu adalah ruang kesehatan kampusnya. Ia juga tidak butuh waktu lama untuk mengingat alasan mengapa ia dibawa kesini.

Adi. Sahabat sekaligus kekasih yang paling dicintainya. Khansa baru berumur 14 tahun waktu lelaki itu hilang bersamaan dengan reruntuhan bangunan yang juga ikut membawa pergi ayahnya. Namun, tidak seperti ayahnya yang sudah dikebumikan dengan layak, jasad Adi belum ditemukan-sampai sekarang-. Itulah yang membuat Khansa percaya bahwa kekasihnya itu masih hidup. Khansa terus percaya sampai kakak dan mamanya mengingatkannya untuk jangan terlalu berharap. Itulah mengapa saat ini Khansa  sedang berusaha sekuat tenaga untuk melupakan lelaki itu. Tidak mudah memang, namun ia rasa ia sudah hampir berhasil. Yah, setidaknya sampai hari ini. Tiba-tiba saja datang seorang lelaki dengan wajah yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya, nama mereka pun sama. Apa ini kebetulan? Khansa tidak pernah percaya dengan suatu kebetulan, menurutnya semua yang terjadi itu sudah ada ketentuannya. Lagipula, kalau itu memang Adi, mana mungkin ia tidak ingat padanya?

Lamunan Khansa terhenti saat Aura masuk mendatanginya.

"Sa, lo gak papa? Kok bisa sampe pingsan gitu sih?" Aura bertanya dengan raut wajah panik.

"Gak papa. Mungkin karena telat makan." Khansa berusaha tersenyum untuk menenangkan sahabatnya itu.

"Duh, syukur deh. Gue pikir lo pingsan gara-gara ngeliat muka gue.." Tanpa Khansa sadari, ternyata Adi daritadi berdiri di sampingnya. Khansa hampir saja jatuh pingsan lagi kalu tidak buru-buru menyeimbangkan tubuhnya.

"Ya enggaklah.. Emangnya lo hantu." Khansa tersenyum sewajarnya.

"Hehe. ya kan gue kirain." lelaki itu tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

**

Sudah dua bulan berlalu sejak pertemuan pertama Khansa dan Adi. Kini mereka berdua pun sudah berteman cukup dekat. Khansa sering bertanya tentang masa lalu Adi, namun tidak ada yang menunjukkan bahwa ia pernah tinggal di Jogja. Kata orang, ada tujuh orang di dunia ini yang wajahnya serupa dengan kita. Mungkin, Adi yang kini bersahabat dengannya adalah salah satu orang yang wajahnya sama dengan mantan kekasihnya. Namun, soal nama yang juga sama, Khansa tidak bisa menjelaskan hal itu.
Adi punya sepupu bernama Ivan. Mereka sangat dekat seperti Khansa dan Aura. Oleh karena itu, jika Khansa ingin pergi bersama Adi, otomatis Ivan juga ikut. Wajah Ivan mirip dengan Adi, mungkin karena mereka sepupuan. Bedanya, Ivan memiliki laugh lines dimatanya. Walaupun wajah Adi dan Ivan mirip, namun sifat keduanya sangat berbeda. Lebih tepatnya, cara mereka memperlakukan dirinya. Adi sangat lemah lembut pada Khansa, sedangkan Ivan cenderung galak. Khansa sering dimarahinya tanpa sebab yang jelas. Khansa beranggapan, mungkin ini karena waktu pertama kali bertemu, Khansa salah mengerjai orang. Khansa kira yang ia kerjai Adi, tapi ternyata itu Ivan. Ya itukan salah sendiri, siapa suruh wajah mereka hampir mirip?

Sebenarnya, kalau diperhatikan, Ivan lah yang selalu ada untuk Khansa. Entah mengapa, di saat-saat susah, Adi malah jarang ada untuknya. Ya Khansa tahu sih mereka baru akrab selama beberapa bulan, tapi masa sih Khansa gak boleh minta bantuannya?
Khansa sendiri juga bingung kenapa Ivan selalu tiba-tiba muncul ketika ia sangat membutuhkan bantuan. Seperti ketika ia hampir kecopetan, atau ketika ban motornya kempes di tengah jalan. Awalnya Khansa pikir Ivan menyukainya, namun ia buru-buru menarik kembali hipotesanya itu. Memang sih Ivan sering membantunya, tapi Ivan lebih sering memarahinya. Mana ada orang jatuh cinta yang doyannya marah-marah terus kan? Khansa pernah sekali bertanya pada Ivan tentang kenapa ia sering tiba-tiba muncul, namun Ivan cuma menjawab, 

"Ya, sebagai pahlawan super yang baik hati, gue akan selalu menangkap sinyal kalo ada perempuan cantik tapi lemah yang sedang mengalami kesusahan. Ya kayak lo gitu deh pokoknya." Ivan berkata sambil tersenyum. 

Sebenarnya senyum Ivan jauh lebih manis dari senyum Adi, tapi sayang dia lebih sering ngomel-ngomel ke Khansa. 

**

Sore ini langit agak mendung. Jogja seharian ini diguyur hujan dan baru berhenti beberapa waktu lalu. Di suatu lapangan basket yang sebenarnya masih cukup basah, dua pria sedang bermain basket satu lawan satu. Adi dan Ivan.

"Sampe kapan lo mau bohongin dia, Van?" Tanya Adi sambil mencoba memasukkan bola yang dipegangnya ke dalam ring. Gagal. Bolanya menabrak pinggiran ring. Dengan cepat bola itu direbut oleh Ivan.

"Sampe gue tahu dia sebenernya suka sama gue apa engga. tapi kayaknya engga deh.." Ivan hendak melempar bolanya ke dalam ring. Namun gagal karena ia terpeleset. Sebenarnya itu salah dia karena main basket hanya menggunakan sandal jepit. apalagi lapangannya becek. Jelas saja ia jatuh.

Sambil Ivan mengecek kakinya yang sedikit tergores, Adi ikut duduk disampingnya. Tak peduli celananya menjadi basah.

"Ya mana ada juga cewe yang bakal suka sama lo kalo tiap hari kerjanya lo omelin terus." Adi berkata sambil menepuk luka sepupunya itu.

"Sakit, Nyet! Ya abisnya gue bingung. Gue gak tahu harus ngomong apa kalo di depan dia, Di.. Tahu-tahu aja gue marah. tapi lo tahu kan sebenernya gue gak marah? Gue cuma terlalu takut bakal kehilangan dia lagi. Lo tahu sendiri segimana susahnya gue nyari dia." Ivan berkata sambil menerawang jauh, seperti mengingat-ingat hal yang selama ini coba ia lupakan.

"Tapi kalo gini caranya, gue takut dia ngiranya itu gue, Van." Adi menatap sepupunya itu iba.

"Itu juga yang paling gue takutin. Makanya gue nyuruh lo jangan terlalu deket sama dia." Ivan menatap Adi dengan sedikit marah.

"Gue gak mau kehilangan dia lagi........"

*

Di tempat berbeda namun di waktu yang sama, Khansa sedang menghirup bau petrichor dari jendela kamarnya. Namun, tiba-tiba saja perutnya lapar, jadi ia memutuskan untuk turun ke bawah untuk mengambil beberapa camilan. Ketika sampai di ruang tamu, ia melihat mamanya sedang membuka album foto lama yang sudah sedikit usang.

"Mas Satrio mana, Ma? Itu album yang dititipin nenek?" Khansa mengambil tempat disamping mamanya. Ia meletakkan camilan yang baru diambilnya dari dapur, dan mengambil salah satu album foto yang tergeletak di lantai.

"Mas Satrio lagi ke tempat temen lamanya. Iya." Mamanya menjawab tanpa melepaskan sedikitpun pandangannya dari album foto dipangkuannya. 
"Sa liat ini deh. ini kan foto-foto kamu sama temen-temen SMP kamu dulu." Mamanya memberikan album itu pada Khansa.

Khansa meletakkan album yang ada di pangkuannya, dan mengambil yang diberikan oleh mamanya. Ya benar. Itu memang foto-foto ia semasa SMP. Khansa sendiri lupa kapan foto-foto itu diambil. Khansa terus membulak-balik halaman album foto itu, sampai akhirnya ia terhenti di satu foto. Foto itu diambil secara candid dan kedua objek yang difoto tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang mengambil gambar mereka. Foto itu terdiri dari seorang perempuan cantik yang rambut ikalnya dikuncir satu kebelakang dan seorang lelaki yang cukup tampan sedang duduk di sampingnya. Wajah sang gadis sedang cemberut, namun sang lelaki malah tertawa menunjukkan sederet giginya yang putih dan rapih. Kedua orang itu adalah Khansa dan Adi. Namun, ada satu hal di foto itu yang langsung menghentikan aliran darah Khansa. Tergambar jelas di foto itu sepasang laugh lines yang tampak di mata si lelaki. 

Laugh lines.......

Wajah yang mirip.....

Selalu ada ketika aku kesulitan....

Tiba-tiba saja perasaan yang tak tergambar merasuki dada Khansa. Khansa pun segera berlari mengambil jaket dan kunci motornya. Sekarang pukul 16:30 dan Khansa tahu benar kemana ia harus pergi. Khansa ingin meyakinkan hatinya sekali lagi.

"Kamu mau kemana , Nak?" Mama Khansa bertanya khawatir

"Khansa mau pergi sebentar, Ma. Gak lama kok. Assalamualaikum." Khansa segera menjalankan motornya keluar dari garasi rumahnya.

**

Setelah pembicaraan yang tiada akhir, Ivan dan Adi memutuskan untuk pulang. Adi merangkul lengan Ivan karena lukanya ternyata cukup parah. Saat mereka akan berjalan, di kejauhan ada seorang gadis yang memarkir motornya dengan serampangan dan lari dengan tergesa-gesa. Gadis itu Khansa. Ia berlari menghampiri Ivan. Matanya terlihat basah, dan ia langsung memeluk Ivan.
Ivan bingung mengapa Khansa mengampirinya sambil menangis. Lebih bingung lagi karena Khansa langsung memeluknya begitu saja. Namun, kebingungan Ivan tidak berlangsung lama dan malah tergantikan oleh perasaan yang tak mampu ia jelaskan. Khansa sudah tahu semuanya, Khansa sudah menyadarinya. Di dalam pelukannya, Khansa menyebutkan namanya,

"Adi......" Khansa memeluk Ivan sambil menangis.

**

Khansa dan Ivan duduk di bangku tak jauh dari lapangan basket. Adi sudah pulang karena ia tak mau mengganggu pertemuan mereka.

"Jadi kamu udah tahu semuanya? dari mana?" Ivan bertanya sambil mengusap lembut rambut Khansa

"Kamu kenapa bohongin aku? kamu kenapa gak ngomong dari awal?" Khansa bertanya di sela isakannya.

"Aku sebenernya udah nyari kamu dari dulu, Sa. dan akhirnya aku tahu keberadaan kamu satu tahun lalu. Aku tahu karena waktu itu aku ngeliat mama kamu lagi ngobrol sama mamanya Adi. Ternyata mereka berdua rekan bisnis. Dari situ aku ikutin mama kamu dan akhirnya aku ngeliat kamu lagi untuk pertama kalinya setelah kita gak ketemu sekian lama. Susah untuk ngejelasin perasaan yang aku rasain hari itu, tapi aku putuskan untuk gak ngasih tahu kamu dulu. Aku takut kamu udah lupa sama aku, dan bukannya aneh kalo tiba-tiba aku dateng sedangkan kamu udah lupa sama aku? Maka itu aku nunggu beberapa waktu buat mastiin itu semua.Sampai akhirnya aku mutusin buat merhatiin kamu dari jauh" Ivan menjelaskan semuanya sambil mengusap lembut telapak tangan Khansa. 
"Dan aku minta bantuan Adi. Muka kami mirip, makanya aku minta bantuan dia dan nyuruh dia ketemu kamu. Kalo kamu masih inget sama aku, pasti kamu bakalan kaget waktu ngeliat dia. yang aku gak tahu, kamu sekaget itu sampe pingsan. Kamu harus tahu seberapa khawatirnya aku waktu itu. Aku minta Adi supaya deket sama kamu, tapi cepet-cepet ngejauh pas kamu kesusahan. Aku mau aku yang akan selalu ada kapanpun kamu butuh. semuanya lancar-lancar aja sampe aku kira kamu suka sama Adi." Ivan tersenyum perih

"Enggak!!"Khansa bersuara tegas.

"Ya itukan kirain aku. Ngomong-ngomong kamu belum jawab, dari mana kamu tahu kalo aku Adi?" 

"Tadi aku liat album foto lama pas aku masih SMP, dan yah, aku sadar kalo Adi pacar aku punya laugh lines tapi Adi sepupu kamu gak punya. Kamu bisa bayanginlah apa yang aku sadarin selanjutnya." Khansa tersenyum walaupun masih dalam isakannya.
"Gimana caranya kamu selamat? dan kenapa nama kamu Ivan?" Tanya Khansa penasaran

"Sebenernya waktu itu aku sama keluarga aku lagi gak ada di rumah. Kami lagi keluar., makanya kami selamat. karena emang udah gak ada yang bisa diselamatkan, papa mutusin untuk kami pindah ke Jakarta dan untuk sementara tinggal di rumah adiknya, yaitu mamanya Adi. Aku mana sempet pamit apa-apa sama kamu, karena itu kejadiannya emang cepet banget. Aku tahu, kamu pasti ngiranya aku udah meninggal." Ivan berkata sambil tersenyum.
"Di Jakarta, papa mulai bangun lagi bisnisnya, dan alhamdulillah cukup sukses. Soal nama Ivan, karena di rumah itu ada dua yang namanya Adi, jadi papa mutusin buat ganti nama panggilan aku jadi Ivan. Kamu udah lupa ya? nama lengkap aku kan Ivandila Adi Saputra." Ivan terus menjelaskan tanpa melepaskan senyuman dari wajahnya.

"Aku boleh manggil kamu Adi lagi kan?"

"Hmm"

Kini Khansa sudah mengerti semuanya. Kini pertanyaan yang selama ini menganggu hati dan pikirannya sudah terjawab semuanya. Orang yang selama ini ia kira sudah mati, ternyata masih hidup dan masih mengingatnya. Lebih dari itu, orang itu masih mencintainya. Sama seperti dulu.
Di bawah cahaya matahari yang mulai memudar, Ivan dan Khansa saling bertatapan. Membiarkan mata mereka saling berbicara mengenai kata-kata yang mulut tak mampu ungkapkan. Dan kali ini, mereka tahu bahwa mereka tak akan membiarkan masing-masing terpisah lagi.

**

Malam itu langit Jogja tampak cukup terang walaupun hanya ada beberapa bintang yang menghiasi. Di atap suatu rumah, ada sepasang kekasih sedang mengagumi keindahan langit malam itu.

"Langitnya bagus banget ya, Di." ucap sang gadis. Ia tersenyum cerah disamping kekasihnya.

"Ya. Indah. Walaupun gak seindah kamu." lelaki itu menggodanya. Si gadis hanya mampu tersenyum sambil menyembunyikan rona merah di wajahnya.

"Sa, listen to me." Si lelaki duduk dan menatap wajah kekasihnya.
"Aku dulu pernah ngejanjiin kamu bahwa kita akan bareng terus selamanya kan? tapi aku gak mau ngejanjjin itu lagi, Sa. I won't promise you forever, karena aku sendiri gak tahu selamanya itu selama apa. Sekarang, aku janji bakal terus ada disamping kamu, emang gak setiap saat, tapi yang pasti selama aku hidup." lelaki itu berkata mantap sambil menggenggam tangan kekasihnya.

"Kamu gak perlu janji apa-apa kok, Di." Gadis itu tersenyum
"kamu selalu disamping aku aja, itu udah lebih dari cukup." Gadis itu membalas genggaman tangan kekasihnya tak kalah mantapnya.

Dan sekali lagi, di bawah langit Jogjakarta malam itu, sepasang kekasih telah saling mengucapkan janjinya. Bahwa mereka akan selalu ada, sampai waktu bahkan tak akan tega untuk memisahkan mereka..

***

Siti Hasyinah Faradita