Dari mana aku harus memulai paragraf ini? Dari aku yang dengan bodohnya menunggumu, atau dari waktu-waktu yang terbuang saat aku menantimu?
Kalau begitu, biarkan aku memulai dari sini...
Aku tidak tahu kapan tepatnya aku menyadari perasaan ku ini. Sejauh yang aku tahu, tiba-tiba saja semua sudah terlambat.
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyukaimu. Namun ketika aku memulainya, aku tahu bahwa aku tak bisa berhenti.
Aku tidak tahu mengapa aku melakukan semua ini. Namun yang ku tahu, semenjak kepergianmu menanti telah menjelma menjadi hobi.
Ada banyak orang di luar sana yang menanti sesuatu yang tepat berada di depan wajah mereka. Sesuatu yang dapat disentuh oleh tangan mereka, namun hati tak mampu meraihnya.
Ada ribuan orang lain yang menanti untuk bertemu kembali. Berharap kesempatan kedua karena pada saat yang pertama mereka telah melakukan sesuatu yang sia-sia.
Dan di sini ada aku yang terus menunggu. Untuk sesuatu yang entah apa. Aku bahkan tidak tahu berharap apa untuk hasil penantianku ini.
Tapi aku tahu tujuanku adalah kamu...
Ribuan kata telah menjelma air mata ketika aku menyadari apa yang aku lakukan ini sia-sia.
Ribuan lagu sendu membuat hati bak disayat sembilu ketika tanpa sengaja aku memutarnya sebagai playlist untuk menunggu kedatanganmu.
Ironisnya sampai lagu yang kesejuta, kau tak kunjung datang menunjukkan air muka.
Bodohnya aku tetap melakukannya, menunggumu tentu saja, walau aku tahu itu semua sia-sia.
Tak sedetik pun aku menyesal, kau tahu aku memang bebal.
Kau tak tahu seperti apa aku menunggumu. Cinta tak pernah menghadirkan kata jenuh. - MenungguAda banyak kata tak terucap yang telah berubah menjadi prosa, mungkin saja suatu hari akan sempat kau baca.
Ada milyaran do'a bercampur air mata, tentu saja untuk berharap kau baik-baik saja.
Sebut aku bodoh karena terus mendo'akanmu yang tak pernah sedetikpun peduli padaku.
Sebut aku tak tahu malu karena mengharapkanmu yang tak pernah mengindahkanku.
Cintalah yang membuat kita mampu menunggu takdir, hingga waktu berhenti. - Gurun Bercerita Cinta
Aku tahu cinta bukan perkara memiliki, karena menurut salah satu penulis favoritku dibukunya ; "banyak yang memiliki tapi tak harus cinta."
Coming to your way
High winds bringing the cold rain
I'm still here waiting
#CintaDenganTitik
Detik demi detik berlalu, namun yang ku mau tetap kamu.
Jam demi jam berdetak, namun yang ku tunggu tetap tak nampak.
Kini, aku malah bingung bagaimana aku harus menutup paragrafku. Dengan cerita indah yang memang tak mungkin bersamamu, atau dengan tangis sesenggukkan yang tak kunjung berhenti sejak aku kehilanganmu?
Suatu saat, cinta akan membuatmu mengerti, bagaimana rasanya memiliki seseorang hanya lewat sebatas harap. - Robin Wijaya
Aku tak akan berkata dengan penuh percaya diri bahwa Tuhan menciptakanmu hanya untukku. Sebesar apapun rasa yang kimiliki untukmu, aku tak akan seegois itu. Kau berhak mempunyai hidupmu sendiri dan menentukan apa yang akan kau pilih.
Namun, benar. Percayalah. Dimanapun kau berada kini, di sanalah cintaku akan menepi.
Kau tak perlu tahu aku siapa, itu semua hanya akan menghancurkan hidupmu. Namun kelak jika rangkaian kata ini kau baca, kau harus tahu sampai saat itu aku masih menantimu.
Ada orang-orang yang memilih untuk menanti. Bukan karena bodoh atau tak punya pilihan. Mereka hanya percaya yang terbaiklah yang tengah mereka tunggu. ~ Robin Wijaya
"Kau tahu, orang asing, kenapa seseorang bisa menunggu sangat lama untuk hal yang mungkin tak pernah ada?" milana berkata.
"karena," katanya. "lebih baik memiliki seseorang yang kau tunggu, daripada tak memiliki seseorang sama sekali." - Bernard Batubara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar