Sabtu, 19 Juli 2014

(Un)important Question

Sekitar seminggu yang lalu di timeline twitter gue ada kuis buat dapet novel gitu. Alamiah banget kalo gue pengen langsung ikut. Cuma baru kali itu gue gak tertarik sama novelnya, tapi sama pertanyaannya. Jadi kurang lebih pertanyaannya itu;

"Lebih baik bersama orang yang menyayangimu atau bersama orang yang kau sayangi?"

Gue mikir. Gue gak bisa jawab. Yaudah aja pertanyaan itu gue copy ke grup whatsapp yang isinya anak idiot yang waktu itu gue ceritain sama ke beberapa orang temen gue. Bedanya, pertanyaannya gue tambahin jadi;

"Lebih baik bersama orang yang menyayangimu atau bersama orang yang kau sayangi? Lebih baik mencintai atau dicintai?"

Dan..................... Inilah jawaban mereka;;;;













Kenapa?








Ada juga loh yang debat......

ADUH SULIT~





Yaps. Things dont work the way you want it to. 

Sebenernya, dari jawaban-jawaban di atas itu ada kesamaannya kalo kita jeli.

Mayoritas cewe pilih untuk dicintai dan hidup bersama orang yang menyayanginya. Mayoritas cowo sebaliknya. Gak semua, tapi kebanyakan gitu.

Ironis. Kebanyakan perempuan mau dicintai tapi belum tentu mencintai. Cuma mau dapet tapi gak mau berbagi.
Sering kejadian ada yang suka sama kita, perempuan khususnya. Cuma dia gak bisa atau mungkin lebih tepatnya gak mau bales perasaan orang itu. Pas orangnya mau cari cewek lain, kitanya marah. Aneh.
Contoh kejadiannya ; Banyak.

Tuhan itu maha adil. Coba kalo common girls maunya dicintai trus common boys-nya juga gitu, kapan ketemunya? Emang sih yang gue tanya cuma beberapa orang, tapi udah keliatan kan mana yang milih dicintai mana yang milih mencintai?

Kalo gue? Im not agree with all the girls's common answer.

Menurut gue lebih baik mencintai daripada dicintai. Jujur emang capek mencintai orang yang gak mencintai kita balik, tapi menurut gue jauh lebih capek terus-terusan dicintai sama orang yang gak akan pernah kita cintai. Percaya, kita bakal terus-terus keganggu dan di satu titik pas udah capek kita bakal marah sama orang itu dan kalo orang itu sakit hati sama kita dia bakal marah dan ujungnya kita yang ngerasa gak enak. Lebih parah lagi kita bakal terus kebayang-bayang karena takut kena karma. Love is so complicated.

Tapi gue setuju. Lebih baik sama orang yang menyayangi kita. Menurut gue kata sayang itu jauh lebih tulus daripada cinta. Gue lebih menghormati orang yang sayang sama gue ketimbang cinta sama gue. Sama kayak gue lebih menghormati orang yang rela ngebuang pulsanya buat sms walaupun dia punya berbagai macem app chatting. Orang kayak gitu lebih worth to fight for. Coba, kalo sama pulsanya aja dia pelit apalagi sama kamu. #iyainajabiarcepet #alaUus

Pada akhirnya, kita bakal nemuin orang yang kita cintai dan juga balik cinta sama kita. Yang kita sayangin dan juga sayang sama kita.





Orang yang bisa kita percaya, orang yang kalo di depan dia kita gak akan pernah takut untuk kelihatan jelek. 

The one you trust isn't your real one, but the real one will be the one you can trust.

Kita gak bisa milih mau jatuh cinta sama siapa. Jatuh cinta karena apa. Yang kita tahu kita bakal jatuh cinta. Eventually. 

Cinta itu tentang dua hati yang mencari untuk saling menemukan, bukan yang satunya sudah menemukan, namun yang satunya masih sibuk mencari meskipun sudah ditemukan. ~ Falen Pratama

Sebenernya postingan ini postingan yang paling bikin gue bingung. Walaupun gue udah bilang lebih baik mencintai, tapi tetep aja rasanya gue gak nemuin jawaban yang gue mau.

Sampe paragraf terakhir postingan ini, gue tetep bingung sama apa yang sebenernya hati gue pilih.

Jadi, disayangi atau menyayangi? Dicintai atau mencintai???

Kamis, 10 Juli 2014

Years of Waiting~

Mungkin ada baiknya kalian dengerin lagu Untukku by Chrisye sambil baca postingan ini~

Dari mana aku harus memulai paragraf ini? Dari aku yang dengan bodohnya menunggumu, atau dari waktu-waktu yang terbuang saat aku menantimu?

Kalau begitu, biarkan aku memulai dari sini...

Aku tidak tahu kapan tepatnya aku menyadari perasaan ku ini. Sejauh yang aku tahu, tiba-tiba saja semua sudah terlambat.
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyukaimu. Namun ketika aku memulainya, aku tahu bahwa aku tak bisa berhenti.
Aku tidak tahu mengapa aku melakukan semua ini. Namun yang ku tahu, semenjak kepergianmu menanti telah menjelma menjadi hobi.

Ada banyak orang di luar sana yang menanti sesuatu yang tepat berada di depan wajah mereka. Sesuatu yang dapat disentuh oleh tangan mereka, namun hati tak mampu meraihnya.
Ada ribuan orang lain yang menanti untuk bertemu kembali. Berharap kesempatan kedua karena pada saat yang pertama mereka telah melakukan sesuatu yang sia-sia.

Dan di sini ada aku yang terus menunggu. Untuk sesuatu yang entah apa. Aku bahkan tidak tahu berharap apa untuk hasil penantianku ini.
Tapi aku tahu tujuanku adalah kamu...

Ribuan kata telah menjelma air mata ketika aku menyadari apa yang aku lakukan ini sia-sia.
Ribuan lagu sendu membuat hati bak disayat sembilu ketika tanpa sengaja aku memutarnya sebagai playlist untuk menunggu kedatanganmu.

Ironisnya sampai lagu yang kesejuta, kau tak kunjung datang menunjukkan air muka.
Bodohnya aku tetap melakukannya, menunggumu tentu saja, walau aku tahu itu semua sia-sia.
Tak sedetik pun aku menyesal,  kau tahu aku memang bebal.

Kau tak tahu seperti apa aku menunggumu. Cinta tak pernah menghadirkan kata jenuh. - Menunggu
Ada banyak kata tak terucap yang telah berubah menjadi prosa, mungkin saja suatu hari akan sempat kau baca.
Ada milyaran do'a  bercampur air mata, tentu saja untuk berharap kau baik-baik saja.

Sebut aku bodoh karena terus mendo'akanmu yang tak pernah sedetikpun peduli padaku.
Sebut aku tak tahu malu karena mengharapkanmu yang tak pernah mengindahkanku.

Cintalah yang membuat kita mampu menunggu takdir, hingga waktu berhenti. - Gurun Bercerita Cinta

Aku tahu cinta bukan perkara memiliki, karena menurut salah satu penulis favoritku dibukunya ; "banyak yang memiliki tapi tak harus cinta."

Coming to your way
High winds bringing the cold rain
I'm still here waiting
#CintaDenganTitik

Detik demi detik berlalu, namun yang ku mau tetap kamu.
Jam demi jam berdetak, namun yang ku tunggu tetap tak nampak.

Kini, aku malah bingung bagaimana aku harus menutup paragrafku. Dengan cerita indah yang memang tak mungkin bersamamu, atau dengan tangis sesenggukkan yang tak kunjung berhenti sejak aku kehilanganmu?

Suatu saat, cinta akan membuatmu mengerti, bagaimana rasanya memiliki seseorang hanya lewat sebatas harap. - Robin Wijaya

Aku tak akan berkata dengan penuh percaya diri bahwa Tuhan menciptakanmu hanya untukku. Sebesar apapun rasa yang kimiliki untukmu, aku tak akan seegois itu. Kau berhak mempunyai hidupmu sendiri dan menentukan apa yang akan kau pilih.
Namun, benar. Percayalah. Dimanapun kau berada kini, di sanalah cintaku akan menepi.

Kau tak perlu tahu aku siapa, itu semua hanya akan menghancurkan hidupmu. Namun kelak jika rangkaian kata ini kau baca, kau harus tahu sampai saat itu aku masih menantimu.

Ada orang-orang yang memilih untuk menanti. Bukan karena bodoh atau tak punya pilihan. Mereka hanya percaya yang terbaiklah yang tengah mereka tunggu. ~ Robin Wijaya 

"Kau tahu, orang asing, kenapa seseorang bisa menunggu sangat lama untuk hal yang mungkin tak pernah ada?" milana berkata.
"karena," katanya. "lebih baik memiliki seseorang yang kau tunggu, daripada tak memiliki seseorang sama sekali." - Bernard Batubara