Gue mau ngabahas tentang perubahan yang udah atau mungkin akan terjadi di dalam hidup.
***
Kita, sebagaimana manusia biasa pasti udah akrab sama yang namanya perubahan. Pertama-tama kita cuma embrio terus berubah jadi janin, lahir jadi bayi, terus gede deh jadi diri kita yang sekarang. Proses itu secara gak sadar bikin salah satu bagian dari diri kita berubah kan?
Dulu waktu kecil yang ada di otak kita cuma main. Makan aja kita males, tidur apalagi. Sekarang, setelah berbagai macam aktivitas yang kita jalanin, kita maunya seharian tiduuuurrr aja. Maunya balik jadi anak-anak lagi aja. Padahal, dulu waktu masih jadi anak-anak kita pengen cepet-cepet gede biar gak dilarang-larang terus sama orang tua.
"masih kecil, belum boleh."
Pernyataan sialan itu yang bikin kita pengen cepet-cepet dewasa. Sekarang? Nyesel.
Dan tentu aja dari semua hal itu ada dua hal yang perubahannya kelihatan paling jelas. Pola pikir dan sudut pandang. Semakin bertambah besar (tentu saja umurnya bukan badannya) kita memandang dunia ini pun dari sudut pandang yang lain. Dari sudut pandang yang sebelumnya gak pernah kita pikirkan apalagi bayangkan.
Dan dari semua perubahan yang ada itu, yang mau gue bahas sekarang adalah perubahan yang terjadi sama orang-orang di sekitar kita.
Lo semua pasti pernah punya kan 1 atau 2 teman yang dulu akrab banget tapi sekarang berubah jadi kayak orang gak kenal?
Gak pernah berantem, gak pernah bertengkar tapi tiba-tiba aja kalian berhenti berhubungan. Semudah itu ternyata suatu pertemanan bisa berakhir.
Mungkin ada yang masih berteman baik, tapi tetep aja gak sedekat dulu. Entah apa sebabnya, mungkin mereka berubah.
Mungkin mereka berubah....
Engga. Sebenernya mereka gak berubah. Mereka tetap jadi diri mereka kok, yang beda cuma mereka berhenti jadi apa yang kita mau. Maksudnya, mereka udah bukan mereka yang kita inginkan dan kita gak bisa nerima diri mereka yang baru itu. Bahkan yang lebih buruk, mungkin aja sebenernya kita yang berubah tapi kitanya gak sadar.
"Ya orang mana bisa selamanya sama. - Raditya Dika"
Iya, mereka gak bisa selamanya jadi apa yang kita inginkan, dan kita juga gak bisa selamanya berdiam diri di satu posisi.
Musim aja ganti-ganti, masa iya kita mau gitu-gitu aja.
Sebenarnya gak ada yang salah sama perubahan, mungkin yang bikin banyak pertentangan adalah soal penerimaan. Harusnya kita bisa menerima dan menghormati keputusan orang lain untuk berhenti menjadi dia yang selalu ingin kita lihat. Sama kayak kita juga ingin orang lain nerima kita apa adanya. Bukannya egois kalo kita mau diterima, tapi kita gak melakukan hal yang sama ke orang-orang di sekitar kita?
Mungkin kalo kita bisa nerima perubahan yang ada di diri mereka, kita gak akan kehilangan orang-orang yang pernah dekat itu kan? Pasti akan ada banyak persahabatan dan hubungan yang bisa diselamatkan berkat penerimaan itu.
As a human, tentu aja punya naluri alamiah untuk mencoba hal-hal baru. Sayangnya, sekali lagi, hal-hal baru itu belum tentu semua orang bisa nerima.
Suatu hari gue pernah ketemu temen lama gue, selain badannya yang nambah tinggi, gak ada lagi yang berubah dari dia. Orangnya tetep asik sama kayak apa yang gue kenal.
Terkadang, saat kita lihat ke diri orang lain dan berkata bahwa dia udah berubah harusnya pada saat yang sama kita juga bertanya pada diri sendiri. "Emang dia yang berubah, atau malah gue yang berubah?".
Sekarang gue selain berangkat sekolah bawaannya males banget keluar rumah. Ngeliat matahari juga rasanya kayak bakalan meleleh. Selain main ama temen yang udah deket banget, gue gak bakal mau diajak keluar. Parahnya, gue juga jadi kurang perhatian sama lingkungan sekitar. Lebih tepatnya sih gue perhatian, cuma cara nunjukkinnya aja yang beda.
Suatu hari nyokap pernah ngomong,
"Kamu mah diajak kemana juga males banget. Keberatan pantat."
So I reply her,
"Loh, bukannya dulu mama yang sebel aku ikutin terus? Ngatain aku jadi buntut? kemana-mana ikut terus."
Gue tahu ada sedikit senyum penyesalan di muka nyokap gue waktu itu, makanya gue tambahin,
"Makanya dulu waktu aku masih mau diajak kemana-mana, nikmatin aja, Mah. Sekarang aku udah gak mau lagi juga jadi aneh kan?"
Nyokap cuma senyum aja waktu gue ngomong gitu. Jujur aja sebenernya gue juga sedih..... Gue sedih karena toh gue juga gak tahu berapa lama lagi waktu yang bisa gue habiskan sama kedua orang tua gue. Gue bersyukur karena dari semua orang-orang yang pernah singgah di hidup gue, cuma mereka dan kakak gue yang memutuskan untuk tinggal. Mungkin nanti ketika tiba saatnya gue bakal nemuin beberapa orang lagi yang akan memutuskan untuk tetap tinggal, tapi sampai saat itu gue gak akan pergi kemana-mana dan akan terus menjadi Fara yang mereka kenal. Gue akan terus berada di rumah ini, rumah yang gue sebut sebagai keluarga.
Ternyata, apa yang waktu perbuat sama kita bisa lebih kejam dari penjahat manapun. Dia ngubah kita jadi sesuatu yang sebelumnya kita bilang ke diri kita sendiri bahwa kita gak akan pernah jadi seperti itu.
Semakin gede, gue semakin tahu kenapa Squidward bisa sebegitu bencinya sama orang-orang -atau lebih tepatnya ikan-ikan.- Gue, dan mungkin kalian juga pasti pernah benci sama seseorang tanpa alasan. Mereka gak pernah ngeganggu kita tapi tetep aja rasanya setiap hal yang mereka lakuin tuh nyebelin.
Kembali ke topik, gue cuma mau bilang;
Terimalah orang yang kita sayangi sebagaimana diri mereka , bukan sebagaimana maunya kita. Jangan sampai karena keegoisan kita, mereka malah nemuin orang lain yang bisa nerima mereka apa adanya.
We never lose, we just learn.
dan tentu aja pandai-pandai lah bersyukur. Segala sesuatu akan terasa sangat berharga ketika itu bukan lagi jadi milik kita. Makanya, selagi masih jadi milik kita, rawat dan jaga.
Sebenernya orang-orang itu gak pernah berubah. mereka cuma dipisahin sama jarak dan waktu. Itu sebabnya, mau gak mau mereka jadi berbeda.
Jadilah orang yang bahagia karena pernah memiliki, bukannya orang yang menyesal karena pernah melewati.
Apapun bentuknya, yang namanya perubahan itu pasti akan terjadi. Itu semua tinggal gimana cara kita menyikapi perubahan itu.