"Kita bakal kayak gini terus kan, Di?" Tanya si gadis sambil terus menggenggam erat tangan kekasihnya.
"Hmm" Sang kekasih hanya menganggukkan kepala dan tersenyum ke arah si gadis.
"Selamanya?"
"Selamanya!"
"Janji?" Mata si gadis mulai berkaca-kaca ketika ia menatap mata kekasihnya.
"Janji!" Sang kekasih tersenyum sambil mengangguk mantap.
Si gadis pun hanya bisa tersenyum dan ikut mengangguk. Saat ini, yang ia inginkan hanyalah supaya waktu dapat berhenti dan ia bisa bersama kekasihnya untuk selamanya.
Namun, tiba-tiba saja kekasihnya melepaskan tangannya dan pergi bahkan tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.
***
"Adi!!!!" Teriak gadis itu. Ia lagi-lagi terbangun karena mimpi itu. Mimpi yang selama beberapa tahun belakangan mati-matian ia coba untuk lupakan. Mimpi yang terus mengganggunya. Mimpi tentang seseorang. Seseorang yang pernah sangat dicintainya, namun telah lama hilang. Seseorang yang pernah menjanjikannya tentang selamanya...
"Khansa!!"
Ya.Gadis itu bernama Khansa. Khansa Putri Ganesha. Usianya 19 tahun, dan kini ia tengah menjalani semester 2 kuliah hukum di salah satu Universitas ternama di Indonesia.
"Iya, Ma. Tunggu sebentar." Khansa turun dari tempat tidurnya dan menghampiri meja rias yang ada di samping lemari baju. Ia mencoba menghapus sisa-sisa air mata yang masih tertinggal karena mimpi kurang ajar yang terus menerus mengganggu tidur malamnya. Ia tidak ingin mamanya tahu dan khawatir.
"Malam ini. Aku janji malam ini terakhir kalinya kamu ganggu aku, Di! Aku capek." Khansa berkata pada dirinya sendiri di depan cermin. Gadis manis itu tetap terlihat cantik dengan rambut ikal sebahunya walaupun ia baru bangun tidur.
"Khansa..." Wanita yang dipanggilnya mama itu memanggilnya lagi.
"Iya, Ma. Khansa turun." Gadis manis itu pun keluar kamar untuk menghampiri wanita yang sedari tadi memanggilnya.
Wanita yang dipanggil mama itu sudah menunggu Khansa di ruang keluarga. Tatapan mata wanita itu sangat teduh memancarkan kenyamanan dan kehangatan, mencerminkan sosok ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya. Usianya sudah memasuki kepala lima, namun kecantikannya seolah tak mau pudar begitu saja.
"Kok lama banget turunnya, Sayang?" Wanita itu tersenyum ketika melihat anaknya menghampirinya.
"Abis ke kamar madi dulu tadi. Emang kenapa sih, Ma? Ini kan hari Minggu aku gak ada jadwal kuliah apa-apa." Khansa bertanya sambil membaringkan badannya di atas sofa depan televisi.
Mama Khansa hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Sudah tidak aneh kalau anaknya itu akan marah jika dibangunkan sebelum matahari mulai meninggi. Apalagi ini hari Minggu. Namun, yang mamanya tidak tahu adalah sebenarnya Khansa sudah bangun dari tadi, hanya saja ia memang belum ingin keluar dari kamarnya.
"Kamu lupa ya? Hari ini kan mas mu pulang dari Surabaya. Kamu sendiri yang bilang mau ikut jemput. Pesawatnya dateng 2 jam lagi, loh." Kata mama Khansa tanpa melepaskan senyum hangat dari bibirnya.
"Oh iya! Aku lupa!" Khansaa bangun dari atas sofa sambil menepuk keningnya cepat.
"Yaudah Khansa mandi dulu ya, ma! Sebentar!" Khansa langsung lari ke kamarnya untuk mengambil handuk, dan setelah itu ia langsung bergegas ke kamar mandi.
***
Suasana bandara pagi ini cukup ramai, maklum saja ini hari Minggu. Mungkin banyak orang yang baru pulang dari liburan panjangnya. Khansa sedang duduk bersama mamanya di ruang tunggu kedatangan. Hari ini kakak yang paling ia sayangi pulang dari Surabaya. Kakaknya akan tinggal bersama ia dan mamanya selama libur semester akhir kuliahnya. Ya, kakaknya memang kuliah di surabaya, ia mengambil jurusan kedokteran disana.
Khansa sangat menyayangi kakak satu-satunya itu, karena ia satu-satunya lelaki yang dekat dengan Khansa. Ayah Khansa meninggal beberapa tahun lalu akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat terjadi gempa yang sempat memporak porandakan Jogja beberapa tahun silam. Khansa dan keluarganya sempat tinggal di rumah nenek dari mamanya selama 2 tahun, sebelum mamanya kembali sukses menata karir dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jogja. Namun, kakaknya tetap tinggal karena ingin kuliah disana. Sesekali kakaknya itu mengunjungi Khansa dan mamanya di Jogja seperti sekarang ini, ataupun juga sebaliknya.
Gempa itu pula yang memisahkan Khansa dari lelaki yang paling dicintainya. Lelaki yang hilang bersama reruntuhan bangunan di kompleks perumahan mereka dulu. Lelaki yang entah mengapa dipercayai Khansa bahwa sebenarnya ia masih hidup...
"Khansa!!" Teriak seorang lelaki bertubuh tinggi dan berbadan tegap. Matanya memancarkan kebahagiaan walaupun tersembunyi di balik kacamata hitam yang dikenakannya. Kulitnya tidak hitam, walaupun memang tidak terlalu putih. Ia terlihat tampan dengan rambut ala Taylor Lautnernya dan gayanya terlihat santai dengan hanya menggunakan polo shirt dan celana pendek selutut.
"Mas Satrio!" Khansa berlari ke arah lelaki itu. Ya, lelaki itu adalah kakak satu-satunya Khansa. Satrio Putra Abimata.
"Mas Satrio apa kabar? Bawa oleh-oleh apa buat aku? Nenek apa kabar? Dia titip sesuatu buat aku?" Khansa menghampiri kakaknya dengan membawa sederet pertanyaan.
"Duh,, masnya kan baru dateng, nanyanya nanti aja dong di rumah." Lelaki itu menjawab sembari tersenyum.
Khansa hanya tersenyum mendengar jawaban kakaknya. Ia langsung menggandeng lengan kakaknya yang yang tidak membawa koper. Usia Khansa dan kakaknya memang tidak terpaut jauh, itulah sebabnya jika mereka sedang berjalan beriringan, banyak orang yang mengira mereka pacaran.
Tak seberapa jauh dari tempat Satrio dan Khansa berdiri, seorang wanita sedang memandangi kedua anaknya itu sambil tersenyum. senyum yang tetap cantik menghiasi wajah tuanya. Wajah yang sudah banyak menghadapi cobaan hidup.
"Mama apa kabar?" Tanya satrio sambil mengecup pipi mamanya.
"Baik. kamu apa kabar, Nak? Nenek gimana?" Mamanya bertanya sembari mereka berjalan menuju parkiran.
"Aku juga baik kok, Ma. Nenek juga. Oh iya, nenek juga nitip sesuatu buat mama. Satrio gak tahu apa, tapi barangnya ada di koper." Kata satrio sambil menepuk kopernya.
"Oh iya, mama emang nitip album-album foto lama ke nenek."
"Kita makan dulu ya? Aku laper banget nih!!" Khansa memotong pembicaraan mama dan kakaknya. Ia memasang wajah memelas sambil memegangi perutnya.
"Boleh." Mamanya menjawab sambil tersenyum.
**
Hari ini hari senin. Hari yang paling dibenci hampir semua orang di dunia. Namun, tidak bagi Khansa. Khansa paling menyukai hari Senin, karena hanya pada hari ini mata kuliahnya tidak terlalu banyak dan melelahkan.
Khansa sedang duduk bersama sahabatnya, Aura, di kantin kampus. Masih satu jam lagi sebelum mata kuliah pertamanya dimulai.
"Sa, lo tahu gak? kan katanya ada anak baru pindahan dari Jakarta. Dia katanya satu jurusan sama kita. terus katanya anaknya ganteng." Aura bercerita tanpa henti.
Khansa mengenal Aura sejak SMA. Khansa tahu segalanya tentang Aura, begitu juga sebaliknya.
"Emang iya? Oh..." Jawab Khansa malas. Khansa memang tak pernah tertarik dengan hal-hal berbau lelaki ganteng yang sering dibahas Aura.
"Iya!!Ohiya, kalo gak salah, namanya Adi!." Kata Aura sambil memasukkan potongan bakwan ke mulutnya.
Tubuh Khansa langsung meremang mendengar nama itu. Nama yang paling ingin ia lupakan, sekaligus nama yang paling ia rindukan. Aura memang tahu segalanya tentang Khansa, namun tentang hal yang satu ini, hanya Khansa, mama, dan mas Satrio yang tahu.
Namun sepertinya Aura menyadari perubahan gerak tubuh Khansa.
"Lo kenapa, Sa?" Tanya Aura khawatir sambil memasukkan potongan bakwannya yang kedua. Untuk ukuran seorang perempuan, porsi makan Aura memang melebihi rata-rata. Namun, ia tidak pernah punya masalah tentang kelebihan berat badan. Itulah salah satu hal yang membuat Khansa iri pada Aura.
"Hah? Gak papa kok. Gue cuma jadi ikutan laper aja ngeliatin lo makan melulu. Gue pesen ketoprak dulu ya." Khansa pun berjalan meninggalkan Aura untuk menghampiri Bu Sum, tukang ketoprak langgananya.
Khansa terlalu terburu-buru sehingga ia tak menyadari ada orang di depannya. Khansa pun menabrak orang itu dan membuat teh yag dibawa orang itu tumpah ke bajunya.
"Eh, aduh, sorry-sorry gue gak liat ada orang." Kata Khansa menunduk merasa bersalah.
"Eh gak papa kok. Suer deh gak papa." lelaki yang ditabrak Khansa itu berusaha menenangkannya.
Khansa pun menatap ke arah lelaki itu dan sedikit limbung. Lelaki itu memang tampan, ya Khansa tahu. Namun, bukan karena itu Khansa limbung. Ia limbung karena wajah lelaki itu mirip seperti wajah lelaki yang dikenalnya. Lelaki yang sangat dirindukannya.
"Lo kenapa?" lelaki itu menangkap khansa yang sudah hampir terjatuh.
"Sorry ya, tadi gue gak sengaja." Khansa berusaha bersikap setenang mungkin dan tersenyum sewajarnya.
"Iya gak papa kok, gue maklum." lelaki itu tersenyum ke arah Khansa. Senyum yang mengembalikan beberapa ingatan kecil Khansa.
"Ohiya, kenalin, gue Adi."
Dan kali ini, dunia Khansa pun menjadi gelap.
**
Khansa terbangun di suatu ruangan berbau obat. Khansa dengan cepat menyadari bahwa itu adalah ruang kesehatan kampusnya. Ia juga tidak butuh waktu lama untuk mengingat alasan mengapa ia dibawa kesini.
Adi. Sahabat sekaligus kekasih yang paling dicintainya. Khansa baru berumur 14 tahun waktu lelaki itu hilang bersamaan dengan reruntuhan bangunan yang juga ikut membawa pergi ayahnya. Namun, tidak seperti ayahnya yang sudah dikebumikan dengan layak, jasad Adi belum ditemukan-sampai sekarang-. Itulah yang membuat Khansa percaya bahwa kekasihnya itu masih hidup. Khansa terus percaya sampai kakak dan mamanya mengingatkannya untuk jangan terlalu berharap. Itulah mengapa saat ini Khansa sedang berusaha sekuat tenaga untuk melupakan lelaki itu. Tidak mudah memang, namun ia rasa ia sudah hampir berhasil. Yah, setidaknya sampai hari ini. Tiba-tiba saja datang seorang lelaki dengan wajah yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya, nama mereka pun sama. Apa ini kebetulan? Khansa tidak pernah percaya dengan suatu kebetulan, menurutnya semua yang terjadi itu sudah ada ketentuannya. Lagipula, kalau itu memang Adi, mana mungkin ia tidak ingat padanya?
Lamunan Khansa terhenti saat Aura masuk mendatanginya.
"Sa, lo gak papa? Kok bisa sampe pingsan gitu sih?" Aura bertanya dengan raut wajah panik.
"Gak papa. Mungkin karena telat makan." Khansa berusaha tersenyum untuk menenangkan sahabatnya itu.
"Duh, syukur deh. Gue pikir lo pingsan gara-gara ngeliat muka gue.." Tanpa Khansa sadari, ternyata Adi daritadi berdiri di sampingnya. Khansa hampir saja jatuh pingsan lagi kalu tidak buru-buru menyeimbangkan tubuhnya.
"Ya enggaklah.. Emangnya lo hantu." Khansa tersenyum sewajarnya.
"Hehe. ya kan gue kirain." lelaki itu tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
**
Sudah dua bulan berlalu sejak pertemuan pertama Khansa dan Adi. Kini mereka berdua pun sudah berteman cukup dekat. Khansa sering bertanya tentang masa lalu Adi, namun tidak ada yang menunjukkan bahwa ia pernah tinggal di Jogja. Kata orang, ada tujuh orang di dunia ini yang wajahnya serupa dengan kita. Mungkin, Adi yang kini bersahabat dengannya adalah salah satu orang yang wajahnya sama dengan mantan kekasihnya. Namun, soal nama yang juga sama, Khansa tidak bisa menjelaskan hal itu.
Adi punya sepupu bernama Ivan. Mereka sangat dekat seperti Khansa dan Aura. Oleh karena itu, jika Khansa ingin pergi bersama Adi, otomatis Ivan juga ikut. Wajah Ivan mirip dengan Adi, mungkin karena mereka sepupuan. Bedanya, Ivan memiliki laugh lines dimatanya. Walaupun wajah Adi dan Ivan mirip, namun sifat keduanya sangat berbeda. Lebih tepatnya, cara mereka memperlakukan dirinya. Adi sangat lemah lembut pada Khansa, sedangkan Ivan cenderung galak. Khansa sering dimarahinya tanpa sebab yang jelas. Khansa beranggapan, mungkin ini karena waktu pertama kali bertemu, Khansa salah mengerjai orang. Khansa kira yang ia kerjai Adi, tapi ternyata itu Ivan. Ya itukan salah sendiri, siapa suruh wajah mereka hampir mirip?
Sebenarnya, kalau diperhatikan, Ivan lah yang selalu ada untuk Khansa. Entah mengapa, di saat-saat susah, Adi malah jarang ada untuknya. Ya Khansa tahu sih mereka baru akrab selama beberapa bulan, tapi masa sih Khansa gak boleh minta bantuannya?
Khansa sendiri juga bingung kenapa Ivan selalu tiba-tiba muncul ketika ia sangat membutuhkan bantuan. Seperti ketika ia hampir kecopetan, atau ketika ban motornya kempes di tengah jalan. Awalnya Khansa pikir Ivan menyukainya, namun ia buru-buru menarik kembali hipotesanya itu. Memang sih Ivan sering membantunya, tapi Ivan lebih sering memarahinya. Mana ada orang jatuh cinta yang doyannya marah-marah terus kan? Khansa pernah sekali bertanya pada Ivan tentang kenapa ia sering tiba-tiba muncul, namun Ivan cuma menjawab,
"Ya, sebagai pahlawan super yang baik hati, gue akan selalu menangkap sinyal kalo ada perempuan cantik tapi lemah yang sedang mengalami kesusahan. Ya kayak lo gitu deh pokoknya." Ivan berkata sambil tersenyum.
Sebenarnya senyum Ivan jauh lebih manis dari senyum Adi, tapi sayang dia lebih sering ngomel-ngomel ke Khansa.
**
Sore ini langit agak mendung. Jogja seharian ini diguyur hujan dan baru berhenti beberapa waktu lalu. Di suatu lapangan basket yang sebenarnya masih cukup basah, dua pria sedang bermain basket satu lawan satu. Adi dan Ivan.
"Sampe kapan lo mau bohongin dia, Van?" Tanya Adi sambil mencoba memasukkan bola yang dipegangnya ke dalam ring. Gagal. Bolanya menabrak pinggiran ring. Dengan cepat bola itu direbut oleh Ivan.
"Sampe gue tahu dia sebenernya suka sama gue apa engga. tapi kayaknya engga deh.." Ivan hendak melempar bolanya ke dalam ring. Namun gagal karena ia terpeleset. Sebenarnya itu salah dia karena main basket hanya menggunakan sandal jepit. apalagi lapangannya becek. Jelas saja ia jatuh.
Sambil Ivan mengecek kakinya yang sedikit tergores, Adi ikut duduk disampingnya. Tak peduli celananya menjadi basah.
"Ya mana ada juga cewe yang bakal suka sama lo kalo tiap hari kerjanya lo omelin terus." Adi berkata sambil menepuk luka sepupunya itu.
"Sakit, Nyet! Ya abisnya gue bingung. Gue gak tahu harus ngomong apa kalo di depan dia, Di.. Tahu-tahu aja gue marah. tapi lo tahu kan sebenernya gue gak marah? Gue cuma terlalu takut bakal kehilangan dia lagi. Lo tahu sendiri segimana susahnya gue nyari dia." Ivan berkata sambil menerawang jauh, seperti mengingat-ingat hal yang selama ini coba ia lupakan.
"Tapi kalo gini caranya, gue takut dia ngiranya itu gue, Van." Adi menatap sepupunya itu iba.
"Itu juga yang paling gue takutin. Makanya gue nyuruh lo jangan terlalu deket sama dia." Ivan menatap Adi dengan sedikit marah.
"Gue gak mau kehilangan dia lagi........"
*
Di tempat berbeda namun di waktu yang sama, Khansa sedang menghirup bau petrichor dari jendela kamarnya. Namun, tiba-tiba saja perutnya lapar, jadi ia memutuskan untuk turun ke bawah untuk mengambil beberapa camilan. Ketika sampai di ruang tamu, ia melihat mamanya sedang membuka album foto lama yang sudah sedikit usang.
"Mas Satrio mana, Ma? Itu album yang dititipin nenek?" Khansa mengambil tempat disamping mamanya. Ia meletakkan camilan yang baru diambilnya dari dapur, dan mengambil salah satu album foto yang tergeletak di lantai.
"Mas Satrio lagi ke tempat temen lamanya. Iya." Mamanya menjawab tanpa melepaskan sedikitpun pandangannya dari album foto dipangkuannya.
"Sa liat ini deh. ini kan foto-foto kamu sama temen-temen SMP kamu dulu." Mamanya memberikan album itu pada Khansa.
Khansa meletakkan album yang ada di pangkuannya, dan mengambil yang diberikan oleh mamanya. Ya benar. Itu memang foto-foto ia semasa SMP. Khansa sendiri lupa kapan foto-foto itu diambil. Khansa terus membulak-balik halaman album foto itu, sampai akhirnya ia terhenti di satu foto. Foto itu diambil secara candid dan kedua objek yang difoto tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang mengambil gambar mereka. Foto itu terdiri dari seorang perempuan cantik yang rambut ikalnya dikuncir satu kebelakang dan seorang lelaki yang cukup tampan sedang duduk di sampingnya. Wajah sang gadis sedang cemberut, namun sang lelaki malah tertawa menunjukkan sederet giginya yang putih dan rapih. Kedua orang itu adalah Khansa dan Adi. Namun, ada satu hal di foto itu yang langsung menghentikan aliran darah Khansa. Tergambar jelas di foto itu sepasang laugh lines yang tampak di mata si lelaki.
Laugh lines.......
Wajah yang mirip.....
Selalu ada ketika aku kesulitan....
Tiba-tiba saja perasaan yang tak tergambar merasuki dada Khansa. Khansa pun segera berlari mengambil jaket dan kunci motornya. Sekarang pukul 16:30 dan Khansa tahu benar kemana ia harus pergi. Khansa ingin meyakinkan hatinya sekali lagi.
"Kamu mau kemana , Nak?" Mama Khansa bertanya khawatir
"Khansa mau pergi sebentar, Ma. Gak lama kok. Assalamualaikum." Khansa segera menjalankan motornya keluar dari garasi rumahnya.
**
Setelah pembicaraan yang tiada akhir, Ivan dan Adi memutuskan untuk pulang. Adi merangkul lengan Ivan karena lukanya ternyata cukup parah. Saat mereka akan berjalan, di kejauhan ada seorang gadis yang memarkir motornya dengan serampangan dan lari dengan tergesa-gesa. Gadis itu Khansa. Ia berlari menghampiri Ivan. Matanya terlihat basah, dan ia langsung memeluk Ivan.
Ivan bingung mengapa Khansa mengampirinya sambil menangis. Lebih bingung lagi karena Khansa langsung memeluknya begitu saja. Namun, kebingungan Ivan tidak berlangsung lama dan malah tergantikan oleh perasaan yang tak mampu ia jelaskan. Khansa sudah tahu semuanya, Khansa sudah menyadarinya. Di dalam pelukannya, Khansa menyebutkan namanya,
"Adi......" Khansa memeluk Ivan sambil menangis.
**
Khansa dan Ivan duduk di bangku tak jauh dari lapangan basket. Adi sudah pulang karena ia tak mau mengganggu pertemuan mereka.
"Jadi kamu udah tahu semuanya? dari mana?" Ivan bertanya sambil mengusap lembut rambut Khansa
"Kamu kenapa bohongin aku? kamu kenapa gak ngomong dari awal?" Khansa bertanya di sela isakannya.
"Aku sebenernya udah nyari kamu dari dulu, Sa. dan akhirnya aku tahu keberadaan kamu satu tahun lalu. Aku tahu karena waktu itu aku ngeliat mama kamu lagi ngobrol sama mamanya Adi. Ternyata mereka berdua rekan bisnis. Dari situ aku ikutin mama kamu dan akhirnya aku ngeliat kamu lagi untuk pertama kalinya setelah kita gak ketemu sekian lama. Susah untuk ngejelasin perasaan yang aku rasain hari itu, tapi aku putuskan untuk gak ngasih tahu kamu dulu. Aku takut kamu udah lupa sama aku, dan bukannya aneh kalo tiba-tiba aku dateng sedangkan kamu udah lupa sama aku? Maka itu aku nunggu beberapa waktu buat mastiin itu semua.Sampai akhirnya aku mutusin buat merhatiin kamu dari jauh" Ivan menjelaskan semuanya sambil mengusap lembut telapak tangan Khansa.
"Dan aku minta bantuan Adi. Muka kami mirip, makanya aku minta bantuan dia dan nyuruh dia ketemu kamu. Kalo kamu masih inget sama aku, pasti kamu bakalan kaget waktu ngeliat dia. yang aku gak tahu, kamu sekaget itu sampe pingsan. Kamu harus tahu seberapa khawatirnya aku waktu itu. Aku minta Adi supaya deket sama kamu, tapi cepet-cepet ngejauh pas kamu kesusahan. Aku mau aku yang akan selalu ada kapanpun kamu butuh. semuanya lancar-lancar aja sampe aku kira kamu suka sama Adi." Ivan tersenyum perih
"Enggak!!"Khansa bersuara tegas.
"Ya itukan kirain aku. Ngomong-ngomong kamu belum jawab, dari mana kamu tahu kalo aku Adi?"
"Tadi aku liat album foto lama pas aku masih SMP, dan yah, aku sadar kalo Adi pacar aku punya laugh lines tapi Adi sepupu kamu gak punya. Kamu bisa bayanginlah apa yang aku sadarin selanjutnya." Khansa tersenyum walaupun masih dalam isakannya.
"Gimana caranya kamu selamat? dan kenapa nama kamu Ivan?" Tanya Khansa penasaran
"Sebenernya waktu itu aku sama keluarga aku lagi gak ada di rumah. Kami lagi keluar., makanya kami selamat. karena emang udah gak ada yang bisa diselamatkan, papa mutusin untuk kami pindah ke Jakarta dan untuk sementara tinggal di rumah adiknya, yaitu mamanya Adi. Aku mana sempet pamit apa-apa sama kamu, karena itu kejadiannya emang cepet banget. Aku tahu, kamu pasti ngiranya aku udah meninggal." Ivan berkata sambil tersenyum.
"Di Jakarta, papa mulai bangun lagi bisnisnya, dan alhamdulillah cukup sukses. Soal nama Ivan, karena di rumah itu ada dua yang namanya Adi, jadi papa mutusin buat ganti nama panggilan aku jadi Ivan. Kamu udah lupa ya? nama lengkap aku kan Ivandila Adi Saputra." Ivan terus menjelaskan tanpa melepaskan senyuman dari wajahnya.
"Aku boleh manggil kamu Adi lagi kan?"
"Hmm"
Kini Khansa sudah mengerti semuanya. Kini pertanyaan yang selama ini menganggu hati dan pikirannya sudah terjawab semuanya. Orang yang selama ini ia kira sudah mati, ternyata masih hidup dan masih mengingatnya. Lebih dari itu, orang itu masih mencintainya. Sama seperti dulu.
Di bawah cahaya matahari yang mulai memudar, Ivan dan Khansa saling bertatapan. Membiarkan mata mereka saling berbicara mengenai kata-kata yang mulut tak mampu ungkapkan. Dan kali ini, mereka tahu bahwa mereka tak akan membiarkan masing-masing terpisah lagi.
**
Malam itu langit Jogja tampak cukup terang walaupun hanya ada beberapa bintang yang menghiasi. Di atap suatu rumah, ada sepasang kekasih sedang mengagumi keindahan langit malam itu.
"Langitnya bagus banget ya, Di." ucap sang gadis. Ia tersenyum cerah disamping kekasihnya.
"Ya. Indah. Walaupun gak seindah kamu." lelaki itu menggodanya. Si gadis hanya mampu tersenyum sambil menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Sa, listen to me." Si lelaki duduk dan menatap wajah kekasihnya.
"Aku dulu pernah ngejanjiin kamu bahwa kita akan bareng terus selamanya kan? tapi aku gak mau ngejanjjin itu lagi, Sa. I won't promise you forever, karena aku sendiri gak tahu selamanya itu selama apa. Sekarang, aku janji bakal terus ada disamping kamu, emang gak setiap saat, tapi yang pasti selama aku hidup." lelaki itu berkata mantap sambil menggenggam tangan kekasihnya.
"Kamu gak perlu janji apa-apa kok, Di." Gadis itu tersenyum
"kamu selalu disamping aku aja, itu udah lebih dari cukup." Gadis itu membalas genggaman tangan kekasihnya tak kalah mantapnya.
Dan sekali lagi, di bawah langit Jogjakarta malam itu, sepasang kekasih telah saling mengucapkan janjinya. Bahwa mereka akan selalu ada, sampai waktu bahkan tak akan tega untuk memisahkan mereka..
***
Siti Hasyinah Faradita
.jpg)